Di sudut Kranggan, Kota Bekasi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyedia kebutuhan sekolah, alat tulis kantor, hingga peralatan elektronik, yang semula tertatih-tatih, kini tumbuh dengan langkah pasti.
Namanya Mitra Cerdas Indonesia (MCI). Di balik pertumbuhan pesat itu, berdiri kisah tentang keberanian, keletihan, dan iman yang tak goyah.
Adalah Frido Halang, seorang anak muda asal Sumba, NTT yang merintis perjalanan ini dari titik yang nyaris tak terlihat. Jauh sebelum MCI berkembang dan melahirkan beberapa anak perusahaan, Frido adalah seorang sales buku di Jakarta—pekerjaan yang menuntut tenaga, waktu, dan kesabaran tanpa batas.
Hari-harinya diisi dengan menyusuri hiruk-pikuk ibu kota. Menawarkan buku dari satu tempat ke tempat lain, menghadapi penolakan, panas, hujan, hingga kelelahan yang menembus fisik dan batin. Namun justru di sanalah ia menemukan makna kerja yang sesungguhnya.
“Kalau bekerja dan belum merasakan letih, itu bukan kerja untuk saya,” ujarnya suatu ketika.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan, melainkan prinsip hidup. Dari keletihan, Frido belajar tentang perjuangan. Dari lelah, ia memahami arti menghargai setiap usaha.
Berbekal pengalaman itu, sebuah kesempatan datang. Kemudahan dalam mendirikan perusahaan dari seorang teman menjadi pintu awal yang ia masuki dengan penuh keyakinan. Tanpa modal berarti, ia melangkah dengan apa yang ia miliki: keberanian, tekad, dan iman.
MCI pun lahir—bukan dari kelimpahan, melainkan dari keberanian mengambil risiko.
Perjalanan awal tentu tidak mudah. Namun Frido tidak asing dengan kerja keras. Ia menghidupkan perusahaannya dengan semangat yang sama seperti saat ia menjadi sales: total, tekun, dan pantang menyerah. Strategi demi strategi ia improvisasi, mengikuti ritme pasar dan kebutuhan pelanggan.
Perlahan tapi pasti, hasilnya mulai terlihat. MCI berkembang, menunjukkan progres yang nyata, dan mulai menapaki jalur pertumbuhan yang menjanjikan.
Di tengah segala upaya itu, ada satu hal yang tak pernah ia tinggalkan: doa. Bersama istrinya, Fransisca, dan ketiga anak mereka, Frido selalu membawa perjalanan usahanya dalam doa. Baginya, kerja keras adalah kewajiban manusia, tetapi hasil akhir tetap berada dalam campur tangan Tuhan.
Tekadnya sederhana namun dalam: melalui perusahaan yang ia bangun, ia ingin menjadi berkat bagi banyak orang.
Kini, langkah MCI semakin mantap. Bersama tim yang terus bertumbuh, Frido melangkah menuju puncak yang ia impikan—bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk semua yang berjalan bersamanya.
Saat ini, dia dan teman-temannya sedang ancang-ancang mendirikan perusahaan penyedia tenaga pengamanan atau security.
Di tengah perjalanan itu, ia tetap rendah hati. “Mohon doa dan dukungan,” ujarnya.
Sebuah kalimat sederhana, namun mencerminkan perjalanan panjang yang dibangun dari letih, keyakinan, dan harapan yang tak pernah padam.
“Kalau bekerja dan belum merasakan letih, itu bukan kerja untuk saya,” ujarnya suatu ketika.
Leave a Reply