Di Bawah Terik Matahari Weetebula, Agus Bora Dairo Menempa Mimpi – Kini Berlanjut di Aqua

Agus Bora Dairo, dari teriknya matahari Weetebula ke air mata pegunungan Aqua.

Matahari di Weetebula, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar panas. Ia menyengat, menekan, bahkan seperti menghunjam tepat di ubun-ubun.

Di bawah langit yang nyaris tak berawan itu, seorang remaja bernama Agustinus Bora Dairo—Agus Bedha—memilih berdiri, bukan berteduh.

Sementara teman-teman seusianya beristirahat sepulang sekolah, Agus justru memulai “hari kedua”-nya.

Pukul tiga sore hingga lima petang pada sekitar tahun 2011 sampai 2014, tubuhnya berpindah dari satu kerja kasar ke kerja lainnya. Hari ini mengaspal jalan, besok memotong batu putih, lusa menggali WC, atau membuat kandang babi milik tetangga.

Tak ada pekerjaan yang terlalu berat, selama itu berarti satu hal: bertahan hidup dan tetap sekolah.

Hari libur? Bagi Agus, itu hanyalah hari kerja yang lebih panjang. Ia menanam palawija di kebun orang, menukar tenaga dengan rupiah yang tak seberapa, tetapi sangat berarti.

“Saya harus benar-benar bekerja keras. Tidak ada pilihan lain,” ujarnya suatu waktu. “Kalau malas, ya gagal total. Dan saya pasti menyesal.”

Kalimat itu bukan sekadar prinsip. Itu adalah garis hidup.

Anak Petani, Mimpi Besar

Agus bermodal ketekunan dan kejujuran.

Agus berasal dari Desa Weekombaka, Wewewa Barat. Anak petani kecil, dengan enam saudara yang sama-sama membutuhkan biaya hidup. Dalam kondisi seperti itu, sekolah sering kali menjadi kemewahan.

Ia tahu, jika ia berhenti bergerak, maka hidupnya pun akan berhenti di titik itu—tanpa ijazah, tanpa pilihan.

Dengan tekad yang nyaris nekat, Agus meninggalkan kampungnya menuju kota kecil Weetebula. Di sana, ia tak hanya menjadi siswa, tetapi juga pencari nafkah bagi dirinya sendiri.

Biaya sekolah, kos, makan, pakaian, hingga perlengkapan belajar—semuanya ditanggung dari keringatnya sendiri.

See also  Persahabatan Orang Kristen yang Lumpuh dan Orang Muslim yang Buta

Namun dari kerja keras itu pula, ia masih menyisihkan sesuatu untuk keluarga. Setiap kali pulang, ia membawa beras atau kebutuhan lain. Sedikit, tapi penuh arti.

Tahun 2014, ia lulus SMA namun di situlah, kenyataan terasa paling menyakitkan.

Tangis di Persimpangan

Saat teman-temannya sibuk memilih kampus, Agus hanya bisa diam—dan menangis.

“Kasihan sekali saya ini. Andai orang tua mampu, saya bisa kuliah juga,” batinnya.

Mimpi kuliah terasa seperti pintu yang tertutup rapat. Namun Agus bukan tipe yang menyerah pada pintu yang tertutup. Ia mencari jalan lain—meski harus memutar jauh.

Ia merantau ke Jakarta pada 2014. Tanpa koneksi. Tanpa jaminan. Hanya membawa satu hal: harapan.

Dari Perantau ke Mahasiswa

Di Jakarta, Agus melakukan apa saja yang bisa menghasilkan uang. Pekerjaan apa pun ia jalani, selama bisa menabung. Dua tahun. Dua tahun penuh kerja, hemat, dan doa.

Hingga akhirnya, yang mustahil itu terjadi: ia berhasil kuliah di STMIK WIT Cirebon, Jawa Barat.

Dengan tekad yang tak pernah padam, dia akhirnya menyelesaikan studinya—dengan nilai yang gemilang.

Ia membuktikan satu hal: mimpi tidak selalu datang dari jalan yang mudah, tapi dari ketekunan yang panjang.

Kerja Keras yang Dilihat Orang

Tak letih melakukan kunjungan harian.

Kita kembali sejenak ke Weetebula. Perjuangan Agus tak luput dari perhatian. Kepala Sekolah SMAK Santo Alfonsus Weetebula, Naja Saverius, pernah menunjuknya di hadapan ratusan siswa sebagai contoh nyata kerja keras, kesabaran, dan tekad.

Di tempat kos, ia juga dikenal sebagai anak yang paling rajin. Namanya sering disebut sebagai teladan oleh ibu kos.

Namun bagi Agus, semua itu bukan untuk pujian. “Sungguh, pengalaman dan keadaan saya hari ini adalah hadiah terindah dari Tuhan,” katanya. “Karena dari situ saya belajar sabar dan kerja keras.”

See also  Dr. drg. Aloysius Giyai, Sukses Setelah Menembus Batas-batas Kemustahilan

Menjemput Kesempatan

Perjalanan Agus juga diwarnai tangan-tangan yang membantu. Seorang suster dari RS Karitas Weetebula membantunya berangkat ke Jakarta dan menghubungkannya dengan Yayasan Mutiara Kasih.

Di sana, ia mendapat pelatihan kesehatan sebelum akhirnya bekerja merawat pasien di Cirebon.

Ketika pasien yang ia rawat meninggal pada Maret 2020, sebuah pintu lain terbuka. Istri almarhum—seorang notaris—memberinya pekerjaan di kantor.

Dari merawat pasien, Agus beralih menjadi staf kantor Notaris PPAT. Ia terus naik, selangkah demi selangkah.

Menjaga Akar, Menatap Puncak

Kini, Agus bekerja di perusahaan air minum Aqua. Ia memulai dari bawah, seperti biasa. Tidak ada jalan pintas dalam hidupnya—dan ia tidak mencarinya. Yang ia pegang tetap sama: kerja keras, doa, dan kejujuran.

Dia sungguh mulai dari bawah. Pada 3 Maret 2022, dia mulai ”debutnya” sebagai ”kenek” – yang ia lakoni selama satu bulan. Masuk bulan kedua dia dijadikan preseller atau sales retail.

Dia mejalani tugas sebagai sales retail selama 23 bulan sebelum dipromosikan sebagai Supervisor Area Aqua Cabang Jonggol sejak 1 Maret 2025 – menghandel Divisi Aqua Home Service.

“Berapa pun tingginya pendidikan kita, kalau tidak jujur, maka tidak berarti apa-apa,” ujarnya tegas. “Saya tahu saya lahir dari mana. Maka saya harus bekerja keras dan jujur,” tambahnya.

Kisah Agus bukan sekadar tentang kemiskinan atau perjuangan. Ini adalah cerita tentang pilihan.

Tentang seorang anak muda yang memilih untuk tidak menyerah, bahkan ketika dunia seolah tidak memberinya ruang.

Di bawah terik Weetebula yang membakar, ia tidak hanya bekerja. Ia sedang menempa masa depan.

Dan kini ia sedang meniti masa depan  dengan jernih bersama jernihnya mata air pegunungan Perusahaan Air Minum Aqua. (Lapier/07)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*