“Kami Cukup”: Jalan Sunyi Frido Halang Menuju Puncak

Frido bersama istrinya saat memberi kesaksian.

Di tengah suasana hangat sebuah ibadah syukuran keluarganya pada 21 Maret 2026, Frido Halang, pengusaha muda asal Sumba, NTT menyampaikan kalimat yang terdengar sederhana, namun sarat makna.

“Kami cukup. Dan kadang saya bertanya, siapa kami sehingga Tuhan memberkati seperti ini?”

Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi Frido, itu adalah rangkuman dari perjalanan panjang—berliku, keras, bahkan nyaris mematahkan harapan.

Hari ini, sebagai ayah tiga anak dan pengusaha dengan beberapa perusahaan yang berjalan stabil, rasa syukur itu bukan sesuatu yang dibuat-buat. Ia lahir dari pengalaman hidup yang pernah membawanya ke titik paling rendah.

Titik Sunyi di Kota Pelajar

Frido: Tuhan sedemikian memberkati kami.

Sore itu di Yogyakarta, Frido muda pernah berada dalam kondisi yang sulit dibayangkan: tak punya uang untuk makan, tak mampu membayar kuliah, dan nyaris kehilangan arah hidup.

Padahal, ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota itu pada 1999, ia datang dengan mimpi besar. Ia ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada. Dua kali ia mencoba, dua kali pula gagal.

Ia tidak berhenti. Jalan berbelok ke Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian, di jurusan Budidaya Kehutanan. Di sana, awalnya semua berjalan baik—hingga kiriman orang tua tiba-tiba terhenti di semester tiga.

“Banyak hal lain yang keluarga urus di kampung. Saya tidak bisa memaksa,” kenangnya.

Realitas itu datang tanpa kompromi. Dalam kondisi terdesak, sebuah informasi sederhana membawanya ke sebuah tempat yang kelak mengubah hidupnya: gereja.

Disiplin yang Lahir dari Keterpaksaan

Di Gereja Kristen Nazarene Gloria Yogyakarta, Frido tidak datang sebagai jemaat biasa. Ia bekerja—mengepel lantai, membersihkan kandang burung, melakukan apa saja yang diperlukan.

See also  Menulis untuk Mengubah Nasib?

Namun yang paling berat justru rutinitas yang membentuknya dari dalam. Hari-harinya dimulai pukul 04.30: doa, pujian, penyembahan, dan renungan pribadi.

Ini sangat kontras dengan kehidupannya sebelumnya—masa ketika ia hidup bebas, merokok, bahkan memungut puntung rokok karena tak mampu membeli.

“Sampai pernah batuk dan muntah darah,” ujarnya.

Tidak ada ruang untuk menolak. Keluar dari gereja berarti kehilangan tempat berteduh. Maka ia bertahan—awalnya dengan terpaksa.

Tetapi justru dari keterpaksaan itu, perubahan mulai terjadi.

Ia belajar disiplin. Ia menundukkan ego. Ia perlahan menemukan makna dalam rutinitas yang dulu terasa menekan.

“Di gereja itu, saya ditempa habis-habisan,” katanya.

Kesombongan runtuh. Kerendahan hati tumbuh. Fokus pada kuliah kembali menguat. Dan hasilnya nyata: ia lulus pada 2004, bahkan skripsinya menembus publikasi internasional.

Bertarung Tanpa Nama di Ibu Kota

Perjalanan belum selesai. Selepas kuliah, Frido merantau ke Jakarta. Ia bekerja di Penerbit Erlangga sebagai tenaga pemasaran buku.

Di sana, ia belajar dari nol. Ia menjual tanpa gengsi. “Saya kerja tanpa malu-malu, toh tidak ada yang kenal saya,” katanya.

Ia membangun relasi, menyerap ilmu, dan aktif mengikuti kelas-kelas motivasi. Dari sanalah mimpinya semakin terarah: ia ingin punya usaha sendiri.

Bagi Frido, hidup tidak boleh sekadar mengalir. Harus ada target yang dikejar.

Dari “Iseng” Menjadi Imperium

Syukur berlimpah atas kebaikan Tuhan.

Tahun 2008, ia mendirikan perusahaan kecil bernama Mitra Cerdas Indonesia (MCI). Awalnya hanya percobaan. Bahkan sempat terbengkalai.

Namun setelah keluar dari pekerjaannya pada 2012, ia mengambil langkah berani: fokus penuh pada MCI.

Bisnisnya bergerak di distribusi buku dan perlengkapan sekolah. Dengan jaringan yang ia bangun, usahanya berkembang hingga bekerja sama dengan pemerintah.

See also  Doa dan Airmata Menyucikan Jiwa

Tantangan terus datang. Tetapi Frido melihatnya dengan cara berbeda.

Ketika pandemi COVID-19 melanda dan banyak usaha runtuh, ia justru melihat peluang.

“Bagi banyak orang itu masa kiamat. Tapi tergantung cara melihatnya. Peluang justru ada di situ,” ujarnya.

Keputusan itu berbuah hasil. Bisnisnya melonjak tajam. Ia bahkan mendirikan tiga perusahaan baru: Maheswara Perkasa, Media Loka Tara, dan Muri Hammu Global Sentosa.

Kini, jika dikapitalisasi, omzet usahanya mencapai sekitar 150 miliar rupiah.

Syukur yang Tidak Sederhana

Meski telah memiliki banyak hal—rumah, kendaraan, kantor, dan bisnis besar—Frido tidak melihat semua itu semata sebagai hasil kerja keras.

Ia kembali pada kalimat yang sama, kalimat yang lahir dari perjalanan panjangnya:

“Kami cukup.”

Bagi Frido Halang, “cukup” bukan berarti berhenti. Ia adalah kesadaran bahwa setiap pencapaian memiliki jejak: pagi-pagi buta yang sunyi, lantai yang dipel, rasa lapar yang pernah akrab, dan keputusan-keputusan kecil yang diambil saat hidup terasa paling sempit.

Dari seorang mahasiswa yang berjalan tertatih-tatih, Frido menjelma menjadi pengusaha dengan omzet ratusan miliar.

Namun lebih dari itu, ia adalah contoh bahwa ketekunan, disiplin, dan iman—ketika bertemu dalam waktu yang panjang—dapat mengubah arah hidup seseorang secara radikal. (EDL)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*