Mama dalam Putih yang Tenang

Mama, terima kasih sempat datang, walau sekelebat. (ilustrasi/Gemini)

Oleh Emanuel Dapa Loka

Mama bukan orang yang banyak bicara. Kata-katanya selalu seperlunya, tapi tindakannya tak pernah setengah-setengah. Sejak subuh belum benar-benar pecah, ia sudah bangun.

Suara sapu lidi yang menyentuh lantai, denting piring di dapur, dan doa yang lirih mengalun dari sudut rumah—itulah jam yang mengatur kehidupan kami.

Kami tahu, sebelum ayam jantan berkokok pun, Mama sudah lebih dulu berbicara dengan Tuhan.

Ia tidak pernah memaksa kami berdoa panjang. Tapi ia memberi contoh yang tak bisa ditawar. Jam doanya teratur, seperti matahari yang tak pernah lupa terbit. Dan dari sanalah, mungkin, datang ketegasannya.

Disiplin baginya bukan pilihan, melainkan jalan hidup. Tidak boleh bangun siang. Tidak boleh bermalas-malasan. Tidak boleh menunda hal yang bisa dilakukan hari ini.

Namun, di balik ketegasan itu, ada mata yang selalu memperhatikan. Diam-diam ia tahu siapa yang sedang lelah, siapa yang sedang gelisah, siapa yang butuh dipeluk meski tak meminta.

Ia jarang berkata “Aku sayang kamu,” tapi tangannya yang menyiapkan makanan, langkahnya yang tak pernah berhenti bekerja, dan doanya yang tak pernah putus—itulah bahasa cintanya.

Anak-anak dan cucu-cucunya mencintainya dengan cara yang sederhana: rindu. Rindu pada kehadiran yang tidak ramai, tapi selalu ada.

Tanggal 12 Desember 2025, Mama pergi.

Tidak dengan suara. Tidak dengan keluhan panjang. Seperti hidupnya—tenang, diam, tapi penuh makna. Ia dimakamkan delapan hari kemudian, di sebuah makam baru. Sebuah tempat yang kelak menjadi rumah bagi lebih dari satu kenangan.

Tulang belulang Papa, yang telah lebih dulu pergi dua puluh lima tahun sebelumnya, digali dari makam lama. Kami menyaksikan dengan hati yang bergetar ketika keduanya dipersatukan kembali—setelah sekian lama terpisah oleh waktu dan tanah.

See also  Refleksi Natal: Emanuel, Tuhan Beserta Kita

Bukan hanya Papa. Seorang anak Mama bernama Veronica yang telah meninggal lima puluh delapan tahun lalu, yang bahkan sebagian dari kami tak sempat mengenalnya, juga dipindahkan. Begitu pula beberapa cucu yang telah lebih dahulu pulang. Mereka semua kini berbaring bersama, dalam satu rumah yang sama.

Seperti keluarga yang akhirnya berkumpul kembali, tanpa perpisahan.

Kami hanya bisa berbisik, “Puji Tuhan…”

***

Malam itu, tanpa diduga, Mama datang.

Ia muncul dalam mimpi, seperti seseorang yang hanya pergi sebentar lalu kembali menyapa. Ia mengenakan baju putih. Duduk tenang di sebuah tempat yang tak bisa kujelaskan—bukan rumah, bukan juga tempat asing. Tapi terasa damai.

Rambutnya yang panjang dan lurus sedang disisir oleh seseorang. Mungkin Mama Vera. Gerakannya lembut, seperti sedang merapikan sesuatu yang sudah indah sejak awal.

Mama terlihat lebih muda. Wajahnya segar. Tidak ada lelah seperti yang dulu kadang terlihat diam-diam di matanya.

Ia tersenyum.

Senyum yang sama. Senyum yang dulu jarang terlihat panjang, tapi selalu cukup untuk membuat hati tenang.

Aku mendekat. Tidak banyak kata. Memang tidak perlu. Aku hanya mencium pipinya—hangat, nyata, seolah bukan mimpi.

Di sampingku, agak ke belakang, seperti biasa, ada Bapak Lard. Ia pasti sempat berkomentar sesuatu yang lucu. Aku tahu itu. Tapi anehnya, aku lupa kata-katanya. Yang tersisa hanya rasa ringan, seperti tawa kecil yang tidak ingin mengganggu keheningan.

Dan setelah itu…

Selesai.

Aku terbangun sebelum matahari benar-benar naik.

Ada rasa yang sulit dijelaskan—antara haru, lega, dan bahagia yang diam-diam mengalir. Tidak ada tangis. Hanya senyum yang datang begitu saja.

Mama tidak banyak bicara, bahkan dalam mimpi.

See also  ODE UNTUK FARHAN, Jejaka Pemberani, yang Darahnya Tertumpah Membela Daras Rosario Suci Sesamanya

Tapi kehadirannya cukup.

Sangat cukup.

Pagi itu, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Seperti ada sesuatu yang mengingatkan—bahwa hidup harus tetap berjalan dengan rapi, dengan doa, dengan ketekunan, seperti yang selalu ia ajarkan tanpa banyak kata.

Dan di dalam hati, aku berbisik pelan,

“Terima kasih, Mama… sudah pulang sebentar.”*

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*