Langit Jakarta pada akhir 1998 barangkali tak pernah benar-benar ramah bagi seorang pemuda dari Karakata, Sumba Barat Daya, NTT, yang datang tanpa bekal selain keberanian.
Tak ada peta, tak ada rencana yang matang—bahkan kartu identitas pun belum ia miliki. Namun Martinus Lelu Bili melangkah masuk ke ibu kota dengan sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar dokumen: semangat dan tekad untuk mengubah nasib.
Hari-hari pertamanya di Jakarta adalah potret kerasnya kehidupan kota. Dengan ijazah SMP di tangan, pilihan pekerjaan terasa sempit dan nyaris tak memberi ruang untuk bermimpi.
Ia menerima apa pun yang ada: menjadi buruh bangunan, debt collector, hingga satpam. Pekerjaan-pekerjaan ini menuntut tenaga, keberanian, dan kesabaran. Tapi bagi Martinus, hidup bukan soal gengsi. Yang penting, halal dan cukup untuk bertahan.
Di tengah segala keterbatasan, ia memelihara keyakinan sederhana yang terus ia gumamkan dalam hati: setinggi apa pun pendidikan, tanpa daya juang, semuanya akan sia-sia. Kalimat itu menjadi jangkar—menahan dirinya agar tak hanyut dalam kerasnya arus kehidupan kota.
Sebagai debt collector dan kemudian satpam, Martinus menjalani hari-hari penuh tekanan. Ia berhadapan dengan risiko, konflik, dan tuntutan yang tak ringan. Namun satu hal tak pernah ia lepaskan: prinsip kejujuran dan kerja keras. Baginya, dua hal itu bukan sekadar nilai, melainkan jalan hidup.
Kepercayaan Tumbuh

Perlahan, prinsip itu membuahkan hasil. Kepercayaan mulai tumbuh dari orang-orang di sekitarnya. Hingga suatu hari, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan terjadi—atasannya mengangkatnya sebagai anak angkat. Sebuah kehormatan yang bagi Martinus bukan sekadar pengakuan, melainkan amanah besar.
Sejak saat itu, ia bekerja dengan standar yang lebih tinggi untuk dirinya sendiri. Ia tahu, kepercayaan hanya bisa dijaga dengan kesungguhan. Ia bahkan pernah rela tidak menerima gaji demi membantu perusahaan tempatnya bekerja bangkit dari keterbatasan. Pengorbanan yang tak banyak orang sanggup lakukan.
Kerja kerasnya tak sia-sia. Setelah perusahaan berkembang, ia justru diberi kepercayaan lebih besar—ikut membangun sistem keamanan dan manajemen perusahaan. Dari seorang satpam, Martinus bertransformasi menjadi sosok yang ikut mengelola tiga perusahaan sekaligus dan dipercaya sebagai konsultan pribadi oleh para pemiliknya.
Kejujuran Membuka Pintu

Ironis sekaligus menginspirasi: pendidikan formalnya mungkin terbatas, tetapi pengalaman dan integritasnya menjadikannya sosok yang diperhitungkan. Ia membuktikan bahwa kejujuran bisa membuka pintu yang bahkan tak terlihat sebelumnya.
Namun kisah Martinus tak berhenti pada pencapaian pribadi. Ia memilih untuk berbagi. Baginya, rezeki adalah titipan yang harus memberi manfaat lebih luas. Ia membantu sesama, baik di Sumba maupun di Jakarta, dengan apa yang ia miliki.
“Saya tidak mau menahan semuanya untuk saya karena itu berkat dari Tuhan. Yang paling penting untuk saya, anak-anak saya bisa sekolah, tidak berkekurangan, sudah cukup,” ujar pemegang ijazah Paket C (2014), setara SMA ini sederhana.
Kini, langkahnya memasuki babak baru. Tak lagi hanya berjuang untuk keluarga, Martinus memperluas pengabdiannya melalui organisasi Insan Keluarga Besar Sumba di Jakarta. Ia dipercaya menjadi Ketua DPC Jakarta Barat, sebuah peran yang ia jalani dengan kesungguhan yang sama seperti saat pertama kali menapakkan kaki di ibu kota.
Melalui organisasi ini, ia hadir untuk mereka yang membutuhkan—membantu warga Sumba di perantauan menghadapi kerasnya hidup di kota besar. Dari bantuan sosial hingga pendampingan, Martinus menjadi bagian dari solusi.
Perjalanan suami dari Yublina Inna ini adalah kisah tentang keberanian melangkah tanpa kepastian, tentang kerja keras yang tak kenal lelah, dan tentang ketulusan berbagi.
Dari kampung sederhana di Sumba hingga hiruk-pikuk Jakarta, ia membuktikan satu hal: ketika tekad, kejujuran, dan kesetiaan berjalan beriringan, jalan akan terbuka—bahkan ketika sebelumnya tak terlihat sama sekali.
”Saya selalu mengingatkan adik-adik agar jujur, sabar, setia dan berteman dengan orang dari mana saja. Jangan membuat permusuhan, tak ada gunanya. Saya sudah membuktikan,” pungkasnya. (EDL)
Leave a Reply