Catatan Emanuel Dapa Loka
Perayaan Natal dan Tahun Baru bersama Insan Keluarga Besar Sumba (IKBS) Jabodetabek dan Bandung pada 31 Januari 2026 bukan sekadar perjumpaan rutin tahunan.
Di momen inilah slogan “Salam Satu Sumba; Menuju Provinsi Sumba” kembali menemukan panggungnya—menggema, menggetarkan, sekaligus membangkitkan kesadaran kolektif sebagai satu masyarakat yang lahir dari rahim sejarah, penderitaan, dan perjuangan yang sama.
“Salam Satu Sumba!” pekik Ketua Umum IKBS, Hermanus Malo Dona, disusul pekikan yang sama dari tiga bupati, yakni Ratu Wulla (Sumba Barat Daya), Umbu Lili Pekuwali (Sumba Timur), Yohanis Dade (Sumba Barat) dan ketua DPRD Sumba Tengah Arpud Rauta Manga Lema.
Seruan itu tidak berhenti sebagai kata-kata, tetapi dijawab penuh semangat oleh warga IKBS dan para undangan dengan pekik “Malla!”—sebuah afirmasi yang berarti ”ya atau yes”, bahkan ”amin”. Jjawaban tersebut sarat makna: persetujuan, keyakinan, dan doa bagi masa depan bersama.
Pekik perjuangan ini kian menemukan “nyalinya” ketika logo Salam Satu Sumba dalam balutan pigura keemasan diserahkan kepada para bupati dan ketua DPRD.
Hadiah simbolik itu bukan sekadar cendera mata, melainkan pengingat akan tanggung jawab sejarah: bahwa perjuangan menuju Provinsi Sumba adalah perjuangan kolektif, panjang, tidak mudah, namun bukan pula mustahil.
Pulau Sumba adalah rumah bersama—lebih luas dari Pulau Bali—namun hingga kini masih menghadapi keterbatasan pelayanan publik.
Untuk urusan pemerintahan tingkat provinsi saja misalnya, masyarakat Sumba harus menempuh perjalanan laut atau udara menuju Kupang. Biaya besar, waktu panjang, dan tenaga yang terkuras menjadi bagian dari realitas sehari-hari. Inilah salah satu penderitaan struktural yang dirasakan bersama, lintas kabupaten, lintas generasi.

Saat ini Sumba telah memiliki empat kabupaten: Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya. Masih dibutuhkan satu kabupaten atau kota lagi sebagai syarat administratif menuju provinsi.
Namun lebih dari sekadar syarat formal, yang dibutuhkan adalah kekompakan para pemimpin dan kesadaran kolektif rakyat Sumba bahwa mereka adalah satu: senasib, sependeritaan, dan seperjuangan.
IKBS mengambil peran strategis dalam menanamkan kesadaran ini. Bahwa Provinsi Sumba mungkin dulu terasa sebagai mimpi, namun mimpi yang terus dipikirkan, direnungkan, dan diperjuangkan dengan konsisten, pada akhirnya akan menemukan jalannya menuju kenyataan.
Sejarah selalu membuktikan: perubahan besar lahir dari gagasan yang mula-mula dianggap mustahil.
Menjadi provinsi bukan sekadar soal pemekaran wilayah, melainkan tentang keadilan pelayanan, percepatan pembangunan, dan perhatian negara yang lebih proporsional.
Dengan status provinsi, harapan akan hadirnya kebijakan yang lebih berpihak pada kebutuhan riil masyarakat Sumba menjadi semakin nyata.
Perjuangan ini tentu tidak akan sepi dari perbedaan pendapat. Akan ada yang ragu, tidak setuju, bahkan mencemooh. Itu adalah bagian wajar dari dinamika demokrasi.
Namun semangat Salam Satu Sumba mengajarkan bahwa perbedaan tidak boleh memecah, melainkan harus dipeluk dalam kesadaran yang lebih besar: bahwa kita semua berasal dari jalan perjuangan sejarah yang sama dan bercita-cita pada masa depan yang sama.
Mari berjuang bersama, dengan kapasitas dan peran masing-masing. Terus memperbarui semangat senasib, sependeritaan, dan seperjuangan itu—agar Sumba tidak hanya menjadi satu dalam seruan, tetapi juga satu dalam langkah, satu dalam tujuan, dan satu dalam harapan.
Salam Satu Sumba !!
Leave a Reply