Alasan Orang Katolik Tidak Makan Daging pada Hari Jumat Selama Masa Puasa

Oleh Benyamin Mali, Katekis dan warga paroki Bekasi Utara, Gereja Santa Clara

Dalam tradisi Gereja Katolik, pantang tidak makan daging pada hari Jumat—terutama dalam masa Prapaskah—bukanlah sekadar aturan disiplin lahiriah. Di baliknya tersimpan makna teologis yang dalam, yang berakar pada Kitab Suci dan misteri keselamatan.

Alasan fundamentalnya menyentuh satu kata kunci: darah. Apa yang kita sebut “daging” dalam konteks pantang biasanya merujuk pada daging binatang yang disembelih. Penyembelihan itu mengandaikan pertumpahan darah.

Dan dalam pemahaman biblis, darah bukan sekadar cairan biologis; darah adalah hidup itu sendiri. Dalam tradisi Ibrani, hidup berada dalam darah. Habis darah, tamatlah hidup. Melayanglah nyawa.

Karena itu, ketika Gereja mengatur pantang daging, sesungguhnya ia mengajak umat untuk masuk dalam kesadaran akan misteri hidup dan kematian—akan harga yang harus dibayar oleh setiap pertumpahan darah.

Yesus: Ya Bapak, ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan nyawaku.

Pada Jumat, Yesus mengalami penderitaan amat dahsyat sampai akhirnya wafat dengan berseru: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Lukas 23:46).

Akar simbolik ini dapat ditelusuri pada peristiwa Paskah pertama dalam Kitab Keluaran. Dalam Kitab Keluaran, bangsa Israel diperintahkan untuk menyembelih anak domba dan mengoleskan darahnya pada ambang pintu rumah mereka.

Darah itu menjadi tanda keselamatan: malaikat maut “melewati” rumah-rumah yang ditandai darah, dan umat Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Darah anak domba menjadi tanda pembebasan.

Paskah Yahudi itu kemudian menemukan kepenuhannya dalam Perjanjian Baru. Yesus Kristus disebut sebagai Anak Domba Allah yang dikurbankan.

Di atas kayu salib, darah-Nya tercurah bukan sekadar sebagai peristiwa tragis, tetapi sebagai korban penebusan. Jika darah anak domba Paskah membebaskan Israel dari perbudakan Firaun, maka darah Kristus membebaskan manusia dari perbudakan dosa.

See also  Paskibraka, Duta Bangsa di Mata Dunia

Hari Jumat dipilih karena pada hari itulah Kristus wafat. Maka setiap Jumat, Gereja mengajak umat untuk mengingat sengsara dan wafat Tuhan. Pantang daging menjadi bentuk solidaritas rohani dengan korban Kristus—suatu tindakan kecil yang menunjuk pada pengorbanan yang tak terhingga.

Mengapa justru daging yang dipantangkan? Karena daging sembelihan selalu mengandaikan pertumpahan darah. Dengan menahan diri dari memakannya, umat diingatkan pada makna darah sebagai hidup yang dikorbankan.

Ini bukan soal merendahkan nilai makanan, melainkan soal membangun kesadaran batin: keselamatan kita tidak datang dengan murah, tetapi melalui darah yang tercurah.

Dalam terang ini, pantang daging bukan sekadar tradisi lama atau hukum formal Gereja. Ia adalah bahasa simbolik. Ia berbicara tentang hidup yang diberikan, tentang darah yang menyelamatkan, tentang korban yang membebaskan.

Pantang itu juga menjadi latihan askese. Dengan menahan selera, manusia belajar bahwa ia tidak hidup dari kenikmatan semata. Ia belajar mengarahkan hasratnya kepada yang lebih tinggi: kepada misteri kasih yang rela menumpahkan darah demi keselamatan.

Maka, alasan terdalam orang Katolik tidak makan daging pada hari Jumat bukan pertama-tama soal kesehatan atau kebiasaan budaya. Ia berakar pada teologi darah—pada kesadaran bahwa hidup ada dalam darah, bahwa darah tertumpah berarti hidup dikorbankan, dan bahwa oleh Darah Kristus yang tercurah di salib, kita memperoleh hidup yang baru.

Pantang daging menjadi tanda kecil dari iman besar: iman kepada Anak Domba yang darah-Nya membebaskan.*

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*