April 1997 menjadi titik balik penting dalam perjalanan jurnalistik Kornelius Purba. Setelah dua belas tahun bekerja di harian Jepang Asahi Shimbun, ia bergabung dengan The Jakarta Post di Jakarta.
Keputusan itu menempatkannya tepat di pusat badai sejarah: hanya tiga bulan kemudian, krisis keuangan dan ekonomi Asia menghantam Indonesia, memicu gelombang demonstrasi, kerusuhan sosial, dan akhirnya mengakhiri 32 tahun pemerintahan Presiden Soeharto pada 1998. Era reformasi pun dimulai.
Sebagai reporter The Jakarta Post, Kornelius—akrab disapa Korpur—mendapat mandat meliput Istana Kepresidenan, Kabinet, dan Kementerian Luar Negeri. Dari posisi strategis ini, ia menyaksikan secara langsung dinamika kekuasaan dan transisi politik Indonesia.
Ia meliput secara intensif tiga presiden yang menentukan arah bangsa pada masa kritis: Soeharto, B.J. Habibie, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dari tujuh presiden Indonesia, hanya Joko Widodo yang tidak pernah ia liput secara langsung, sehingga fokus tulisannya banyak bertumpu pada ketiga tokoh tersebut.
Buku From Soeharto’s Fall to Prabowo’s Rise merupakan refleksi dari konsistensi menulis selama 28 tahun di The Jakarta Post. Buku ini terbagi dalam dua bagian besar.
Bagian pertama mengulas kepemimpinan tujuh presiden Indonesia, dari era Orde Baru hingga pemerintahan Prabowo Subianto.
Bagian kedua membawa pembaca menelusuri politik luar negeri Indonesia, mencakup kawasan ASEAN, Asia-Pasifik, Uni Eropa, hingga Asia Timur.
Yang membuat kedua buku ini menonjol bukan hanya kelengkapan topiknya, tetapi juga sudut pandangnya. Tulisan-tulisan ini tidak sekadar laporan atau opini yang berdiri sendiri.
Kornelis menambahkan pengantar reflektif tentang masing-masing presiden, sehingga pembaca memperoleh konteks historis dan politik yang utuh.
Kedua buku ini juga diperkaya dengan wawancara tokoh politik dan bisnis, kisah perjalanan ke luar negeri, serta kolom ringan By The Way yang menghadirkan sisi humanis dan jenaka.
Melalui buku-buku ini, Korpur mengajak pembaca memahami Indonesia dari dekat—dari ruang-ruang kekuasaan, dari peristiwa besar yang membentuk arah bangsa, hingga detail kecil yang sering luput dari perhatian.
Setelah menutup halaman terakhir, pembaca tidak hanya mengetahui lebih banyak tentang Indonesia, tetapi juga diajak melihat negeri ini dengan perspektif yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Apa dan bagaimana itu? Keputusan untuk membaca buku tersebut, akan membantu Anda menemukan jawabannya.*
Leave a Reply