SUMBA BARAT DAYA – Mentari pagi menyingkap tirainya pada 15 Desember 2025. Cahaya keemasan perlahan membias, menghangatkan nadi bumi yang semalaman terlelap dalam pelukan embun dan dingin, di bawah nyanyian sunyi serangga malam.
Hari itu bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah janji perjumpaan antara yang hidup dan yang telah mendahului.
Di ruang utama keluarga, Leonardus Dapa Loka membentangkan tikar adat. Isyarat itu berbicara tanpa kata: acara makawera segera dimulai.
Makawera—yang juga dikenal sebagai koda ruwi atau gali tulang—bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan batin, sebuah ikatan yang kembali disimpul antara darah, tanah, dan leluhur.
Rato Urata, Lede Ngongo, berdiri sebagai jembatan antara dunia. Melalui syair-syair adat yang dilantunkan khidmat, ayam, beras, uang koin, kapas, keratan gelang kea serta sirih pinang, maksud didaraskan kepada leluhur.
Semua itu menjadi medium penyampai maksud: keluarga hendak berangkat menjemput tulang belulang, mengajak mereka pulang ke rumah yang baru. Di sana, doa tak hanya terucap, tetapi bergetar dalam diam.
Rombongan keluarga Guru Alo dari Pero, Desa Pero, Kecamatan Wewewa Barat, kemudian berangkat menuju Kampung Kalelekedu di Desa Wali Ate.
Zaman telah berubah. Mobil membawa mereka melintasi jalan, menggantikan langkah kaki dan derap kuda masa lalu.
Dahulu, tulang-tulang leluhur pulang di punggung kuda; kini, ia pulang dalam ruang logam yang melaju, namun makna tetap tak bergeser.
Di Kalelekedu, keluarga menggali tulang Veronica, yang telah dimakamkan 57 tahun silam—saat ia masih seorang bayi.
Ritual dipimpin oleh Rato Adat Ama Bili, dimulai di rumah besar, tempat kata-kata adat kembali menghidupkan ingatan.
Kepada leluhur keluarga dari Pero Ama Bili menyampaikan bahwa anak-cucu mereka telah datang, menjemput Veronica untuk pulang dan bersemayam bersama Ayah, Ibu, serta kerabat dalam rumah baru di Pero.
Ayam disembelih, bulunya dibersihkan dengan api, tubuhnya dibelah untuk membaca bahasa usus—tanda restu dari para leluhur. Hati pun lega ketika pertanda itu menunjukkan izin.

Syukur mengalir sunyi di dada setiap anggota keluarga. Diiringi irama ritual, mereka menuju makam lama. Meski waktu membuat jejaknya samar, akhirnya tempat peristirahatan Veronica ditemukan.
Setelah disemayamkan sejenak di rumah besar, keluarga makan bersama, menyantap daging babi yang disembelih hari itu. Kebersamaan menjadi jembatan lain—antara duka dan syukur. Usai itu, rombongan kembali ke Pero untuk melanjutkan makawera.
Di Pero, penggalian tulang Bapak Aloysius Bulu dilakukan di makam yang sudah berusia 25 tahun. Selain itu, penggalian beberapa cucunya dilakukan di samping kubur Bapak Aloysius Bulu Malo.
Makam lama yang rapuh dan berada di dataran rendah dikhawatirkan tak lagi aman, terlebih saat hujan turun dan air merembes masuk.
Irama gong kematian, talla ata mate, mengalun, didahului talla woleka, gong kegembiraan—seolah menegaskan bahwa duka dan sukacita berjalan berdampingan.
Penggalian dilakukan oleh Dairo Ki’i dan Samuel Ngongo Bole, dibantu beberapa anggota keluarga lain yang turut masuk ke dalam makam berukuran sekitar dua kali dua meter. Gregorius Umbu, cucu tertua, ikut turun.
“Waktu itu Kakek meninggal di pangkuan saya, maka saya harus masuk ke dalam makam,” ujarnya lirih—sebuah pengakuan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Tulang-tulang yang telah digali dibersihkan dengan penuh hormat, dibungkus kain tenun ikat Sumba, lalu disemayamkan dalam peti berbalut kain putih.
Diiringi musik gong, peti-peti itu dibawa masuk ke rumah dan diletakkan di samping peti jenazah Mama Theresia Bela.
Tiga hari kemudian, semuanya dimakamkan bersama di makam baru yang telah disiapkan keluarga—sebuah perhentian yang lebih layak, lebih aman, dan lebih damai.
Di Indonesia, setidaknya dua suku memelihara tradisi gali tulang: Suku Batak dengan Mangongkal Holi, dan Suku Sumba dengan makawera. Meski berbeda nama dan tata cara, keduanya berakar pada makna yang sama: penghormatan dan kasih yang tak terputus oleh kematian.
Semoga mereka yang telah berpulang beristirahat dalam Damai Abadi, dalam pelukan Kerahiman Tuhan, dan semoga yang hidup terus belajar merawat ingatan, sebab cinta sejati tak pernah selesai oleh waktu. (Lapier 07/tD)
Leave a Reply