SUMBA BARAT DAYA – Malam perlahan rebah di Bukit Letekonda, wilayah Sumba Barat Daya, pada 9 Maret 2026. Angin malam menyapu lembut punggung bukit yang hijau, membawa suara serangga yang bersahutan seperti orkestra alam yang sederhana.
Di tengah lanskap yang mulai ditelan gelap, lampu-lampu dari Hotel Sima berpendar hangat—seakan menantang malam agar tidak sepenuhnya menguasai bumi.
Di tempat itulah sebuah pertemuan kecil, namun sarat makna, berlangsung. Malam itu bukan sekadar jamuan makan. Ia adalah perayaan, pengingat, sekaligus pelukan bagi harapan-harapan muda yang sedang bertumbuh.
Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 50 tahun kehadiran produk pertanian Atonik 6.0L di Indonesia serta 20 tahun kiprah Yayasan Sahabat Kemuning Indonesia.
Namun perayaan itu tidak ditandai dengan kemewahan atau pidato panjang. Justru yang menjadi pusatnya adalah anak-anak panti asuhan yang malam itu duduk bersama, menikmati santap malam dengan wajah-wajah yang menyimpan kisah masing-masing.
Di antara mereka hadir Gustaf Tamo Mbapa, salah satu direktur yang terlibat dalam perjalanan panjang Atonik 6.0L di Indonesia, bersama Suryadi dari Yayasan Sahabat Kemuning Indonesia.
Keduanyatidak hanya datang sebagai penyelenggara acara, tetapi sebagai sahabat yang ingin mengatakan kepada anak-anak itu: kalian tidak sendirian.
Hadir juga tokoh masyarakat Imanuel Horo dan Bene Dalupe.
Meja makan menjadi tempat pertama di mana kehangatan itu terasa. Tawa kecil, percakapan yang masih malu-malu, dan aroma makanan yang mengepul di udara malam menyatukan semua orang dalam suasana kekeluargaan.
Setelah makan bersama, suasana berubah menjadi panggung kecil penuh ekspresi. Anak-anak bergantian bernyanyi, membaca puisi, dan melantunkan pantun. Ada suara yang masih ragu, ada pula yang lantang penuh percaya diri.
Namun setiap tepuk tangan yang terdengar seakan berkata bahwa keberanian sekecil apa pun layak dirayakan.
Salah satu momen paling menghangatkan adalah ketika mereka bersama-sama menyanyikan lagu daerah “Rasa Sayang.” Lagu sederhana itu mengalun di antara angin bukit, seolah mengikat semua orang dalam satu rasa: bahwa kasih sayang selalu menemukan jalannya, bahkan di tempat yang jauh dari keramaian.
Di sela kegiatan itu, Gustaf Tamo Mbapa menyerahkan bingkisan berupa buku dan alat tulis kepada anak-anak panti asuhan. Benda-benda sederhana, tetapi menyimpan makna besar: masa depan.
“Anak-anak harus percaya bahwa mereka bisa menjadi apa saja,” ujarnya. Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bangkit dari situasi sulit. Yang terpenting adalah keyakinan bahwa langkah mereka tidak berjalan sendiri.
Pesan serupa juga disampaikan oleh Suryadi. Ia mendorong anak-anak untuk bersungguh-sungguh mengejar cita-cita. Kesuksesan, katanya, bukan hanya milik mereka yang lahir dalam kemudahan, tetapi juga bagi mereka yang mau berjuang dengan tekun.
Malam semakin larut di Bukit Letekonda. Angin bertiup sedikit lebih dingin, tetapi suasana di dalam hotel tetap hangat. Anak-anak memegang buku baru mereka dengan mata yang berbinar—seperti memegang peta kecil menuju masa depan.
Lampu-lampu di Hotel Sima terus berpendar, menjadi simbol sederhana bahwa kegelapan mungkin tidak selalu bisa diusir sepenuhnya. Namun selama ada orang-orang yang saling peduli, selalu ada cahaya yang cukup untuk menerangi jalan.
Dan di bukit itu, pada malam yang sunyi di Sumba Barat Daya, cahaya itu terlihat jelas—di tawa anak-anak, dalam nyanyian mereka, dan dalam harapan yang perlahan tumbuh kembali. (Lapier/07)
Leave a Reply