Di tanah rantau, jarak ribuan kilometer dari kampung halaman sering kali terasa panjang dan sunyi. Namun bagi para perantau dari Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, rasa jauh itu dipendekkan oleh persaudaraan yang terjalin erat melalui IKALSABDA—Ikatan Keluarga Asal Sumba Barat Daya.
Ikatan ini menjadi rumah bersama bagi warga Sumba Barat Daya yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Di perantauan, mereka tidak hanya berbagi cerita tentang kampung halaman, tetapi juga berbagi duka, air mata, dan kegembiraan.
Dari sanalah tumbuh kesadaran bahwa mereka berasal dari latar budaya yang sama—dan sering kali dari kondisi ekonomi kampung yang serupa—yang mendorong mereka untuk saling menguatkan.

Semangat persaudaraan itu kembali terasa pada Minggu, 8 Maret 2026. Hari itu, para anggota Ikalsabda berkumpul di rumah Dominggus Bily Rato di Cimanggis, Depokuntuk memilih pengurus baru. Suasana pertemuan berlangsung sederhana, tetapi penuh kehangatan.
Pemilihan ini dilakukan lebih cepat dari rencana semula. Masa kepengurusan ketua sebelumnya, Thobias Tamo Ama, sebenarnya baru akan berakhir pada 30 September 2026. Namun karena kesibukannya yang tinggi, ia merasa tidak dapat lagi menjalankan tugas secara optimal.
Thobias sendiri yang menginisiasi percepatan pemilihan tersebut. Ia menyadari bahwa organisasi harus tetap berjalan dan melayani anggotanya dengan baik.
“Tujuannya supaya roda organisasi tetap berjalan dan bisa melayani anggota dengan baik,” demikian semangat yang mendorong langkah tersebut.
Inisiatif ini mendapat dukungan dari para tokoh Ikalsabda, termasuk dua penggagas organisasi, Servulus Bobo Riti dan Martinez Bobo Milla, serta salah satu senior, Fredy Dappa Toma.
Sebagai organisasi yang berlandaskan ikatan kekeluargaan, proses pemilihan pun dilakukan dengan cara yang sederhana dan penuh musyawarah. Perwakilan anggota yang hadir sepakat menunjuk secara aklamasi Gerardus Maliti sebagai ketua baru, didampingi Andreas Dadimesa sebagai wakil ketua.
Gerardus Maliti—yang akrab disapa GM dan saat ini berpangkat Kolonel di Angkatan Udara—mengaku menerima amanah tersebut karena diminta oleh banyak anggota.
Mari Merapat
Kepada LAPIERO.COM, ia mengatakan bahwa keputusannya tidak didorong oleh ambisi pribadi, melainkan oleh keinginan melayani sesama warga Sumba Barat Daya di rantau.
“Tidak ada motivasi lain. Saya tahu betul ketika seseorang menghadapi masalah pelik dan tidak punya teman. Sangat sakit,” kata GM.
Bagi GM, kebersamaan di rantau tidak boleh berhenti pada pertemuan atau acara seremonial. Ia percaya bahwa keluarga besar Ikalsabda harus saling hadir ketika ada anggota yang sedang menghadapi kesulitan.
“Sebagai keluarga, saya juga merasa sakit kalau ada yang sakit atau menghadapi persoalan. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa kalau tidak ada kerja sama. Jadi mari merapat. Jangan jauh-jauh. Lebih enak kita baku dekat daripada jauh-jauh,” ujarnya dengan nada bercanda.
Harapan juga datang dari Dominggus Bily. Ia berharap kepengurusan baru dapat lebih aktif berkoordinasi dan cepat tanggap ketika anggota menghadapi masalah.
“Kami sungguh mau Ketua dan pengurus menjadi Ina Ama yang mengayomi oledadi Ikalsabda se-Jabodetabek,” ungkap Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga ini.
Selama ini Ikalsabda berusaha hadir dalam berbagai persoalan yang dialami anggotanya. Tidak sedikit warga yang menghadapi masalah di tempat kerja, mengalami sakit, atau berduka karena kehilangan anggota keluarga. Dalam situasi seperti itu, kehadiran komunitas sering kali menjadi penopang yang sangat berarti.
Karena itulah Sekretaris Ikalsabda Martinez Bobo Milla—yang akrab disapa Om Bob—terus mengajak setiap warga Sumba Barat Daya di rantau untuk bergabung dengan Ikalsabda atau setidaknya masuk ke dalam grup WhatsApp organisasi tersebut.
Menurutnya, komunikasi yang terjalin membuat setiap anggota bisa saling memantau dan saling membantu.
Bangun Solidaritas
Di tanah rantau, persaudaraan seperti inilah yang menjadi pengikat. Mereka yang datang dari kampung dengan berbagai keterbatasan belajar untuk berdiri bersama. Ketika satu orang jatuh, yang lain datang mengangkat. Ketika ada yang berduka, yang lain hadir menguatkan. Dan ketika ada yang bersukacita, semua ikut merayakan.
Bagi banyak anggota Ikalsabda, pengalaman bersama di rantau—baik dalam air mata maupun tawa—justru menjadi perekat yang semakin kuat bagi persaudaraan mereka.
Lebih dari sekadar organisasi perantau, Ikalsabda juga menyimpan harapan yang lebih besar: bahwa solidaritas yang dibangun di rantau suatu hari akan menjadi modal untuk ikut membangun kampung halaman di Sumba Barat Daya.
Para anggota percaya bahwa ketika orang-orang Sumba Barat Daya saling menguatkan di perantauan, mereka sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar bagi masa depan daerah asal mereka.
Rencananya, pengukuhan pengurus baru Ikalsabda akan dilaksanakan pada 9 Mei 2026 dalam acara Paskah Bersama Ikalsabda—sebuah momen yang tidak hanya merayakan iman, tetapi juga merayakan persaudaraan yang tumbuh jauh dari tanah kelahiran. (Lapiero/EDL)
Leave a Reply