Abdul Nais, Pemulung Bertangan Satu yang Selalu Membungkukkan Badan

Di balik karung plastik dan tangan yang tak utuh, berdiri lelaki yang tetap merawat harga diri.

Hampir setiap pagi, di gang sempit depan rumah, saya selalu berpapasan dengannya. Langkahnya pelan, gerobaknya berderit lirih, atau kadang hanya karung plastik besar yang tersampir di punggung kirinya. Namanya Abdul Nais. Ayah dari tiga anak. Seorang pemulung.

Tetapi yang paling saya ingat bukanlah gerobaknya. Bukan pula karung lusuh yang ia panggul. Yang paling saya ingat adalah caranya menyapa.

Setiap kali berpapasan dengan siapa pun, ia selalu membungkukkan badan. Sedikit menunduk, memberi hormat, seperti ingin berkata: “Saya mungkin kecil di mata dunia, tapi saya tetap menghargai Anda.”

Di dunia yang sering kali keras dan tergesa-gesa, sikapnya terasa seperti oase yang sunyi.

Abdul baru 45 tahun. Tubuhnya masih kuat. Wajahnya masih menyimpan sisa-sisa ketegapan seorang pekerja bangunan. Namun tangan kanannya sudah tidak ada. Lima tahun lalu, ia kehilangannya.

Saat itu ia bekerja sebagai buruh bangunan di sebuah perumahan di Bekasi. Ia kebagian mengerjakan bagian atas rumah bertingkat dua. Tepat di atas bubungan atap, melintang kabel listrik telanjang. Mungkin karena lelah, mungkin karena terburu-buru, ia tak menyadarinya.

Ketika lengannya terangkat, kulitnya menyentuh kabel itu. Sengatan listrik bertegangan tinggi menyambar tubuhnya. Ia terpental. Tubuhnya terbakar. Lengan kanannya rusak parah. Hampir seluruh badannya terluka.

Ia dilarikan ke rumah sakit. Di sanalah keputusan berat itu diambil: tangannya harus diamputasi. Beberapa operasi lain menyusul. Ia selamat. Tapi hidupnya tak pernah lagi sama.

Sejak itu, ia tahu tak mungkin kembali menjadi buruh bangunan. Dengan satu tangan dan tanpa keterampilan lain, pilihan hidupnya menyempit. Namun ia punya istri. Ia punya tiga anak yang harus makan, harus sekolah, harus tumbuh dengan harapan.

See also  Golgota dan Peringatan Terhadap Nasib Kita

Maka ia memilih memulung. Setiap hari ia berkeliling mencari barang bekas. Tapi ada satu hal yang membuatnya berbeda. Ia tidak pernah berangkat terlalu pagi saat hari masih gelap. Katanya, ia takut disangka mencuri.

“Saya tidak mau orang curiga,” ujarnya suatu kali. Kejujuran baginya lebih penting daripada beberapa karung plastik tambahan.

Beberapa kali ia menemukan telepon genggam yang terjatuh di jalan. Ia tidak membawanya pulang. Ia menunggu di tempat itu, berharap pemiliknya kembali. Jika terpaksa pergi, ia menitipkannya di warung terdekat dengan pesan sederhana: jangan dimatikan, siapa tahu ada yang menelepon.

Di tengah hidup yang keras, ia tetap memilih lurus. Penghasilannya tidak besar. Dari tumpukan kardus, botol plastik, dan besi bekas itulah ia membiayai keluarganya. Ia selalu menasihati istri dan anak-anaknya agar tidak banyak keinginan.

“Kita syukuri yang ada,” katanya.

Ia ingin menyenangkan mereka. Ia ingin melihat anak-anaknya tersenyum. Namun sampai hari ini, ia belum mampu membelikan sepeda untuk si bungsu yang begitu menginginkannya.

Setiap kali ia membungkukkan badan saat menyapa orang, saya merasa justru kitalah yang seharusnya menunduk hormat kepadanya.

Karena di balik karung lusuh dan satu tangan yang hilang, berdiri seorang lelaki yang tidak kehilangan harga diri.

Seorang ayah yang tetap tegak dalam kejujuran. Seorang manusia yang memilih bermartabat meski hidupnya berkali-kali dijatuhkan.

Abdul Nais memang memulung barang-barang yang dibuang orang lain. Tetapi ia menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni kehormatan. (Lapier/07)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*