Cerpen B. Retang Wohangara, Fakultas Bahasa dan Seni, Unika Soegijapranata, Semarang
Rumah Tari bercat putih dengan empat tiang utama berdiri kokoh di atas bukit kecil, di sebuah pinggir jalan desa. Sebatang pohon beringin berukuran besar di samping kiri seolah menjadi penjaga rumah dan yang menghuninya.
Cukup lama rumah itu sepi sendiri, namun beberapa hari ini terdengar hidup oleh pukulan irama gong dan tambur, hentakan kaki dan bunyi giring-giring, dan gelak tawa. Sore itu, beberapa anak muda anggota sanggar nampak mengolah raga dan emosinya, berlatih tarian Paaka sebulan menjelang festival budaya di ibu kota kabupaten.
“Stoppp! Kurang serius gerakannya.” Irama tambur dan gong berhenti seketika seperti motor yang direm mendadak.
“Hei Engko Lisa, Irgi, maju lagi sedikit” teriak pelatihnya.
“Ayo lagiii: satu, dua, tiga!”
Di antara para penari itu ada Rambu Kahi, gadis berusia enam belas tahun sawo matang, bermata jernih dan bertubuh lentur. Ia belajar menari dari neneknya yang sering berkata, “Tiap pertunjukan tari adalah cerita kehidupan. Ketukan tambur, gong sama dengan detak jantung. Gerakan kepala, tangan, dan kaki yang kadang cepat dan lambat seperti kita hidup. Kadang iramanya cepat, kadang pelan-pelan. Menari adalah na pahumba wanda[1]
Namun, tidak

semua orang muda berpikir seperti Rambu Kahi. Gisel baru saja pulang kampung setelah cukup lama tinggal di tanah sebarang. Saat berangkat dulu, keluarga dan teman-teman menyapanya ‘Nggu’na[2].” Kini, “Panggil saya, Gisel,” tegasnya. Gisel menjadi seseorang yang berbeda. Terbata-bata dengan Kambiara.[3] Ngobrolnya sudah sering pakai ‘nggak’ dan ‘gimana sih.’ Suka sekali pakai celana pendek sampai pantatnya sering terpapar matahari Sumba yang panas. Tahu Kahi sering berlatih menari dan berusaha belajar lagi bahasa leluhurnya, Gisel menyapanya sinis saat bersimpangan jalan.
“Kahi, koq suka sekali menari sih?” tanya Gisel. “Di kota Bila, orang menari dengan lampu warna-warni, musik modern yang asyik, dan pakai sepatu mahal. Lha kamu ini sama teman-temanmu? Bunyi duk.. duk… tong…tong… Lalu lompat-lompat lagi dengan kaki telanjang. Teriak kayak orang gila. Primitif.”
Kahi berhenti sejenak; menarik nafas dalam karena jantungnya berdegup kencang.
“Kau sebut primitif?” jawab Kahi pelan. “Tarian kita ada duluan dari lampu dan musik yang Engko bangga-banggakan itu. Sudah ada sejak leluhur kita mendarat di Tanjung Sasar lalu berpencar untuk menetap di berbagai penjuru Sumba.”
Gisel tertawa kecil. Na kamu’jur na ta’da ngaru-na[4].
“Ah… omong kosong apa lagi. Orang itu tidak hidup di masa lalu. Dunia sudah berubah, Kahi. Kau harus menari seperti orang modern. Jangan terbelakang”
Kahi menatapnya tajam. Tanpa sadar, tangan mengepal. Hanya Tuhan yang tahan, dia tidak merangsek dan menjambak orang bercelana umpan ini.
“Oh begitu ko, Gisel? Engko mau saya tercabut dari akar budaya. Jadi orang Sumba tanpa akar. Kehilangan jati diri. Jadi orang lain begitu?”
Gisel mengangkat bahu.
“Lihat saja nanti. Orang akan bosan lihat kalian punya tarian. Itu-itu saja. Mana orang peduli. Orang khan ingin hal baru.”

Malam itu, Kahi duduk di bale-bale bersama neneknya di bawah sinar bola listrik yang temaram. Kahi membantu nenek untuk pamening[5]. Dulu neneknya adalah penenun tangguh. Namun pekerjaan yang butuh tenaga ekstra itu tidak lagi bisa dilakukannya. Percakapan mereka ditemani rengekan meteran token listrik dan nyamuk yang minta makan.
“A’pu[6],” kata Kahi, “Gisel bilang tarian kita sudah ketinggalan zaman. Ia bilang orang tak lagi peduli.”
Nenek tersenyum, tidak menoleh. Tetap fokus pada bentangan benang-benang di alat tenun.
“Rambu, ada orang yang mudah lupa, tidak peduli dengan budayanya. Mata perih kalau lihat Kabhokang, Kandingang, Paaka, Puti Liku[7]. Telinga sakit kalau dengar Kualambaku atau Njara Miting[8]. Tapi Engko menari bukan pertama-tama untuk mata mereka. Atau menari untuk telinga mereka. Engko menari karena cinta tana wai Humba[9]. Engko menari karena bersyukur lahir di tanah Marapu ini.”
“Tapi bagaimana kalau tak ada lagi yang lihat, A’pu?”
“Kalau tidak ada yang lihat, ya sudah. Engko dan teman-teman menari lebih giat dan sering lagi. Engko tetap menari meski tidak ada yang menonton, ” balas A’pu sambil tertawa kecil.
Kahi menyimpan ucapan nenek dalam sudut hatinya yang paling tenang. Tetap menari saja meski tidak ada mata dan telinga yang menjadi saksi.
***
Seminggu menjelang festival, para penari semakin giat berlatih. Tambur, gong, giring-giring kakalaku, dan kayaka[10] bertalu. Suara pelatih juga sudah sering meninggi. Memberi semangat penari agar mereka berlatih dengan sungguh-sunguh.
Saat mereka sedang istirahat, Gisel berkelebat muncul dari balik pohon beringin dan mendekati para penari. Seperti biasa, pakaiannya tetap pendek-pendek. Kini tubuh dan pantatnya terpapar malam yang dingin, dan dia tidak peduli. Rupanya dari tadi dia sudah mengamati latihan para penari.
“Kalau ingin buat senang penonton, kalian harus tampil modern. Bukannya tampil tidak jelas begitu ,” katanya sinis.
Semua kaget dan terdiam, juga para pelatih dan penabuh gong dan tambur.
Namun Kahi melompat berdiri dan berkata lantang,
“Gisel, ada apa Engko di sini. Jangan buat kacau.”
“Teman-teman, jangan dengar ini orang gila. Kita harus tetap tampilkan Paaka. Tarian milik kita sendiri. Kita tidak bisa buat orang senang tapi lupa pada diri kita.”
“Memang keras kepala kau, Kahi. Kau pikir cara lama itu menarik? Orang akan tertawa karena lihat kalian menari mirip kerbau.
“Kami menari bukan semata-mata untuk dilihat atau didengar orang. Kami menari karena cinta tanah Humba. Kami bersyukur karena Humba sudah beri kami hidup,” ucapnya pelan dan tegas, mengulang lagi nasehat neneknya.
Ruangan hening. Kata-kata Kahi menyesap dalam dada semua, kecuali Gisel.
“Gisel, terima kasih sudah beri masukan. Tapi kami semua akan tetap menari. Kami tidak akan lupa dengan pesan pendiri sanggar kami. Jangan Biarkan Anak-Anak Tercerabut dari Akar Budayanya. Jadi lebih baik engko pergi sekarang,” kata pelatih tari mereka. Matanya agak memerah bukan hanya karena menahan marah tapi juga pengaruh dua tiga sloki yang dia teguk sebelum ke Rumah Tari.

Festival Budaya yang dinanti akhirnya tiba. Sejak pagi, aula besar kabupaten sudah semarak oleh kehadiran para penari dari berbagai penjuru Sumba. Mereka datang dengan busana adat kaya warna kebanggaan masing-masing. Penonton mulai memadati aula pertunjukan dengan wajah ceria dan rasa ingin tahu.
Di sekitar aula, deretan kain tenun terpajang indah dengan warna merah bata dan biru tua. Motif andung[11], buaya, kuda, dan patola ratu nampak mencolok. Stan-stan makanan lokal dan nasional berjajar rapi tidak jauh dari sana: manggulu, kaparak, ayam bakar, goreng, sate, sosis. Tepuk tangan, tambur dan gong dari dalam aula menciptakan suasana hangat dan penuh semangat.
Hoo kayakanya: Hoyewuuu! Hoyewuuu! ditimpa pekikan kakalaku melengking perempuan.
Tambur berdentum Tum… tum-tum… tum! Dipadu pukulan gong yang ritmis dung… dang.. dung..
Tubuh para penari, termasuk Kahi, bergerak lembut, dengan gelengan kepala dan gerak tangan yang bersenyawa dengan iringan musik. Pekikan membuat darah mendesir dan asupan tenaga pada ayunan kaki dan tangan. Bunyi giring-giring yang memeluk kaki penari berdenting seperti gemerisik rumput digesek angin padang sabana. Kahi merasa roh leluhur hadir dan menari bersama mereka. Jiwanya menyatu dengan bumi, dengan udara.
Ketika tarian berakhir, waktu berhenti sejenak. Keheningan yang rapuh lalu pecah oleh tepuk tangan panjang para penonton. Suara tambur dan gong kini digantikan sorak penonton.
Kahi tersenyum, bukan untuk kemegahan dirinya, tapi untuk tana Humba yang dicintainya. “Semoga entakan kaki dan ayunan tangan tarian Sumba terus hidup menghadapi tantangan jaman,” ucapnya lirih di sela nafasnya yang masih tersenggal.

Gisel mendekat. Tidak seperti sebelumnya. Kini langkahnya malu-malu. Dia tampak angun dengan lau pahikung[12] yang dipakainya.
“Kahi… aku tidak tahu kalau tarian kalian bisa seindah itu ya,” ujarnya perlahan.
Kahi menatapnya lembut.
“Sekarang kau tahu to, Gisel. Tarian Sumba itu tidak kuno, tidak primitif. Tarian Sumba harus buat kita bangga. Kita bangga karena tidak lupa budaya sendiri. Menari juga adalah kegiatan yang positif, sehat to?”
“Benar Kahi. Terima kasih. Minta maaf e… Saya lupa bahwa keindahan dan rasa bangga tidak selalu perlu cahaya. Mereka hanya butuh akar yang kuat.”
Kahi tersenyum dan menggenggam tangan Gisel.
“Kalau begitu, minggu depan, engko datang ke Rumah Tari ya. Bulan depan kita diminta menari di resepsi pernikahan di Kawangu.”
Gisel mengangguk. Sebentar lagi mereka akan menari di bawah cahaya bulan, menyeleraskan detak jantung dengan irama bumi. Berjanji bahwa budaya tari Sumba akan tetap ada di sini. Tak akan biarkan orang Sumba tercerabut dari akar budayanya. Mereka akan jadi akar, akar yang menari.*
CATATAN:
- Bahasa Lokal,Kambiara: Penanda Kesumbaan kita
- Tipikal nama Sumba Timur untuk perempuan
- Bahasa lokal sebagian besar rakyat Sumba Timur
- Bibirnya mencibir
- Pamening adalah proses menata benang di alat tenun agar bisa ikat sesuai motif yang diinginkan
- A’pu: nenek; dan bhoku: kakek
- Beberapa nama tarian Sumba Timur
- Lagu rakyat untuk masa panen
- Tanah air Sumba
- Pekikan khas Sumba; Kayaka untuk laki-laki; kakalaku untu Perempuan.
- Pohon tengkorak
- Sarung songket untuk perempuan.
Leave a Reply