Burung yang dimaksud di sini adalah burung dalam arti sebenarnya. Jangan pikir burung lain…
Ketika memberikan renungan dalam Ibadah Peluncuran Program Pembangunan Rumah Besar Sumba di Jabodetabek (26/9) di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia, Salemba, Jakarta, Romo John Kota Sando Pr menyampaikan sebuah ilustrasi yang mengundang tawa sekaligus mengandung pesan sederhana.
Dikisahkannya, seorang pemuda dari Kabu Yawila datang menemui seorang pendeta. Ia sengaja hendak menguji sang pendeta senior itu.
Pemuda itu membawa sebuah kaleku yang cukup besar. Di dalamnya ada seekor burung yang baru saja ditangkapnya.

Sesampainya di hadapan pendeta yang sedang duduk di balai-balai, pemuda itu bertanya, “Kalau Bapak Pendeta memang jago, coba tebak. Burung dalam kaleku ini hidup atau mati?”
Sang pendeta mengernyitkan dahi. Tiba-tiba saja ada orang datang membawa teka-teki.
Ia berpikir sejenak.
Kalau ia menjawab, “Burung itu hidup,” pemuda itu bisa saja membuka kaleku dan membiarkan burung tersebut terbang. Berarti jawabannya benar.
Tetapi pemuda itu juga bisa melakukan hal sebaliknya. Kalau Pendeta itu katakan, burung hidup, ia bisa memasukkan tangannya ke dalam kaleku, kemudian meremas atau mencekik burung itu hingga mati. Kalau begitu, jawabannya salah.
Sang pendeta kembali berpikir.
Akhirnya, dengan tenang ia berkata, “Hei orang muda, burung itu hidup atau mati, tergantung engkau. Kalau engkau mau menerbangkannya, ia hidup. Kalau engkau meremasnya, ia mati.”
Pemuda itu terdiam.
Orang-orang yang mendengar cerita tersebut pun tertawa.
Romo John kemudian menarik kisah itu ke dalam konteks Rumah Besar Sumba.
“Berhasil atau tidaknya Pembangunan Rumah Besar Sumba yang kita luncurkan hari ini, tergantung kita,” katanya.
Mau berusaha atau tidak. Mau bergerak atau tidak. Mau membangun bersama atau hanya menjadi penonton.
Lalu, dengan nada bercanda, Romo John menambahkan, “Tapi kalau kita yang dari empat kabupaten ini tidak bisa, ya keterlaluan juga.”
Tawa kembali pecah.
Namun di balik kelucuan itu, pesannya jelas: nasib Rumah Besar Sumba ada di tangan orang Sumba sendiri.(*)
Leave a Reply