LOURDES — Diperkirakan seperempat juta peziarah akan memadati lokasi peziarahan Lourdes. Mereka menanti kedatangan Paus Leo XIV yang akan berkunjung ke tempat itu pada 26–27 September 2026.
Demikian disampaikan Patrick Vinuales, Co-Managing Director Hôtel Vinuales Group di Lourdes, kepada Sekretaris Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), Stanislaus Jumar Sudiyana, Kamis (25/09/2026).
Kunjungan Leo XIV sekaligus menambah babak baru dalam sejarah hubungan Lourdes dengan para paus. Setelah 18 tahun, Lourdes kembali menerima kunjungan seorang paus.
Sejarah mencatat, kunjungan terakhir seorang paus ke Lourdes dilakukan Paus Benediktus XVI pada September 2008. Kunjungan tersebut berlangsung dalam rangka memperingati 150 tahun penampakan Bunda Maria kepada Bernadette Soubirous di Gua Lourdes.
Sementara itu, Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Lourdes dua kali, yakni pada 1983 dan 2004. Kunjungan pada 2004 merupakan lawatan luar negeri terakhir yang dilakukan Paus Yohanes Paulus II sebelum wafat pada 2005.
Menurut Patrick, persiapan tidak hanya dilakukan oleh pengelola tempat ziarah dan pemerintah setempat. Warga, pelaku usaha, hotel, serta berbagai komunitas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan Lourdes sebagai kota ziarah internasional juga ikut terlibat.
“Sekitar 150.000 peziarah sudah mendaftar untuk menghadiri misa pada Minggu, 27 September, bersama Paus Leo XIV. Tercatat 50.000 peziarah juga sudah mendaftarkan diri untuk menghadiri doa Sabtu malam di Lourdes. Jumlah ini diperkirakan akan bertambah,” jelas Patrick.
Persiapan menyambut kedatangan Paus terlihat di berbagai sudut kota. Spanduk dan ornamen bernuansa putih-kuning, warna yang identik dengan Vatikan, mulai menghiasi kawasan sekitar Sanctuary of Our Lady of Lourdes. Sejumlah hotel dan bangunan di sekitar tempat ziarah juga mempercantik fasad mereka.
“Kunjungan Paus ke Lourdes selalu menjadi kesempatan yang sangat istimewa. Ada rasa antusiasme, emosi, dan kebanggaan yang luar biasa di antara tim kami,” ujar Patrick.
Hôtel Vinuales merupakan kelompok hotel keluarga yang telah lama berakar di Lourdes. Menyambut kedatangan Paus, fasad Grand Hôtel Gallia & Londres yang berada di seberang Sanctuary, Hôtel Saint Sauveur, dan Hôtel La Solitude dihiasi spanduk putih dan kuning. Di Grand Hôtel Gallia & Londres, dekorasi juga dipasang di area taman dan ruang-ruang hotel.
Bagi Patrick, menyambut peziarah dari berbagai negara bukan hal baru bagi tim hotelnya. Namun, kunjungan seorang paus menghadirkan suasana yang berbeda.
“Menyambut para peziarah yang datang dari berbagai penjuru dunia merupakan tradisi yang kami pahami dengan baik. Namun, kunjungan Paus ke Lourdes bagi kami merupakan momentum yang sangat, sangat istimewa,” tambah Patrick.
Datang sebagai Peziarah
Paus Leo XIV dijadwalkan tiba di Bandara Tarbes-Lourdes-Pyrénées pada Sabtu (26/9) pukul 19.05 waktu setempat. Dari bandara, Paus menuju Sanctuary of Our Lady of Lourdes dan berdoa di Gua Massabielle sekitar pukul 19.40.
Gua Massabielle merupakan pusat spiritual Lourdes. Di tempat inilah, menurut tradisi Gereja Katolik, Perawan Maria menampakkan diri kepada Bernadette Soubirous pada 1858.
Menariknya, Leo XIV tidak hanya datang sebagai pemimpin Gereja Katolik. Di Lourdes, ia juga akan hadir sebagai seorang peziarah.
Uskup Lourdes, Mgr Jean-Marc Micas, sebelumnya menggambarkan Paus akan menjalani sejumlah pengalaman yang juga dilakukan para peziarah, seperti menyentuh batu di gua, minum air, menyalakan lilin, dan berdoa.
Di situlah wajah kemanusiaan Lourdes terasa kuat.
Orang datang dengan latar belakang berbeda. Ada yang membawa keluarga. Ada yang mendampingi orang sakit. Ada yang datang sebagai relawan. Ada pula yang datang dalam keheningan untuk mencari penguatan.
Ketika Orang Sakit Jadi Pusat Perhatian
Pada Minggu (27/9), agenda Paus berlanjut dengan pertemuan bersama para uskup Prancis pada pukul 09.00.
Pukul 11.00, Paus memimpin Misa di Sanctuary Meadow. Pada sore hari, ia dijadwalkan bertemu dengan para peziarah yang sakit di Accueil Notre-Dame.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari kunjungan. Secara tradisi, Lourdes sejak lama dikenal sebagai tempat ziarah yang memberi perhatian besar kepada orang sakit. Di sana, mereka tidak sekadar menjadi penerima pelayanan, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan ziarah.
Para relawan, tenaga kesehatan, keluarga, dan pendamping hadir untuk membantu mereka menjalani perjalanan yang bagi sebagian orang tidak mudah.
Ada tangan yang mendorong kursi roda. Ada orang yang membantu menaiki kendaraan. Ada yang membawakan barang. Ada pula yang sekadar duduk menemani dalam keheningan.
Hal-hal sederhana itu menjadi bagian dari wajah Lourdes, kota kecil yang menjadi salah satu tujuan peziarahan utama dari seluruh dunia.
Kedatangan Paus juga membuat Lourdes bersiap menghadapi peningkatan jumlah pengunjung. Selain kawasan Sanctuary, hotel, restoran, toko, transportasi, dan berbagai layanan publik turut bersiap.
Bagi kota yang kehidupan ekonominya sangat berkaitan dengan aktivitas ziarah, kunjungan Paus menjadi peristiwa besar.
Namun, Lourdes tidak hanya sedang mempersiapkan diri untuk menyambut seorang pemimpin Gereja.
Kota ini sedang mempersiapkan diri untuk menerima manusia dengan berbagai cerita.
Mereka datang membawa doa, kecemasan, rasa kehilangan, harapan, dan kerinduan untuk menemukan ketenangan.
Pada Minggu malam, Paus Leo XIV dijadwalkan mengikuti doa Rosario dan prosesi lilin di Sanctuary Esplanade pukul 21.00. Ribuan cahaya lilin akan bergerak perlahan di antara para peziarah.
Dari kejauhan, prosesi itu mungkin tampak sederhana. Namun, bagi mereka yang hadir, setiap lilin membawa cerita sendiri.
Ada doa untuk keluarga. Ada harapan bagi orang yang sedang sakit. Ada ungkapan syukur. Ada pula permohonan yang mungkin tidak pernah disampaikan kepada siapa pun.
Di Lourdes, semua doa itu berjalan bersama.
Ketika Paus Leo XIV meninggalkan kota tersebut pada Senin pagi untuk melanjutkan kunjungannya ke Paris, Prancis, Lourdes akan kembali pada rutinitasnya sebagai kota kecil di kaki Pegunungan Pirenia.
Namun, bagi puluhan ribu peziarah dan warga yang ikut menyambutnya, kunjungan tersebut akan meninggalkan satu pengalaman bersama: bahwa di tengah dunia yang bergerak cepat, masih ada tempat ketika manusia berhenti sejenak, berjalan bersama, dan mencari harapan. (*)
Leave a Reply