Irwan Hidayat dan Mimpi yang Tak Pernah Surut untuk Rawa Pening

Ada satu hal yang selalu menarik ketika berbincang dengan Irwan Hidayat. Di balik pembicaraan tentang bisnis, strategi perusahaan, atau perkembangan industri jamu, percakapan itu hampir selalu bermuara pada alam.

Ia bisa berbicara panjang tentang pohon, gunung, mata air, hingga sebuah danau yang telah lama mengisi pikirannya: Rawa Pening.

Bagi Presiden Direktur Sido Muncul itu, Rawa Pening bukan sekadar hamparan air seluas ribuan hektare di Kabupaten Semarang. Danau itu adalah cermin hubungan manusia dengan alam. Ketika alam dijaga, manusia akan hidup lebih baik. Ketika alam diabaikan, kerugiannya akan kembali kepada manusia sendiri.

Mungkin karena itulah, selama hampir sepuluh tahun terakhir, Irwan tidak pernah berhenti memikirkan cara menyelamatkan Rawa Pening.

Banyak orang melihat eceng gondok yang menutupi permukaan danau sebagai persoalan. Irwan melihat lebih jauh dari itu. Yang membuatnya gelisah justru apa yang terjadi di bawah permukaan. Pendangkalan terus berlangsung.

Data yang ia pelajari menunjukkan, pada 1998 kedalaman Rawa Pening masih sekitar 15 meter. Kini diperkirakan hanya tersisa sekitar tiga meter. Tanah yang tergerus dari lereng-lereng di sekeliling danau terbawa hujan, mengendap selama puluhan tahun, perlahan mengikis usia danau yang menjadi sumber kehidupan bagi ribuan orang.

Ia tidak melihatnya sebagai persoalan lingkungan semata. “Danau itu kalau dibenahi berpotensi besar sebagai destinasi wisata unggulan di Jawa Tengah, menyelamatkan sumber air, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tanah di daerah sekitar,” ujarnya.

Kalimat itu menggambarkan cara Irwan memandang sebuah persoalan. Ia tidak pernah berhenti pada masalah. Yang ia cari adalah manfaat yang bisa lahir ketika masalah berhasil diselesaikan.

Dalam bayangannya, Rawa Pening bukan lagi danau yang dipenuhi eceng gondok. Airnya kembali jernih, dikelilingi panorama Gunung Merbabu, Telomoyo, Ungaran, dan Kendalisodo. Wisatawan datang menikmati keindahan alam.

See also  Demi Impian Lio jadi Pemain Bola Andal, Donna dan Darius Lepaskan ke Paris

Warung-warung tumbuh. Hotel berdiri. Perahu wisata berlayar. Anak-anak muda tak perlu lagi meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan.

Bahkan, menurutnya, nilai tanah warga di sekitar danau pun akan ikut meningkat. Pendapatan daerah bertambah. Alam tetap lestari.

Cara berpikir seperti itu tidak lahir dalam semalam. Irwan tumbuh bersama dunia jamu—dunia yang sejak awal mengajarkan bahwa seluruh kehidupan bergantung pada alam.

Rimpang, daun, akar, kulit kayu, hingga berbagai tanaman obat menjadi bahan baku yang selama puluhan tahun menghidupi perusahaan yang dipimpinnya.

Karena itulah, menjaga alam baginya bukan sekadar tanggung jawab sosial perusahaan. Alam adalah sahabat bisnis yang harus dirawat.

Filosofi itu terlihat dalam berbagai riset yang dilakukan tim Research & Development Sido Muncul.

Ketika banyak orang menganggap eceng gondok sebagai limbah, Irwan justru bertanya, “Apa yang bisa dilakukan dengan tanaman ini?”

Jawabannya lahir dari laboratorium. Eceng gondok diolah menjadi wood pellet, bahan bakar biomassa yang kemudian dimanfaatkan dalam proses produksi jamu. Jika kadar airnya terus ditekan dan dicampur dengan ampas jamu, hasilnya menjadi sumber energi yang ramah lingkungan.

Bahkan lumpur hasil sedimentasi pun tidak dianggap sebagai sampah. Bagi Irwan, lumpur itu masih menyimpan manfaat. Sejumlah petani telah menggunakannya sebagai pupuk organik.

Cara pandang seperti itu menunjukkan satu hal: di tangan Irwan Hidayat, hampir tidak ada yang benar-benar menjadi limbah.

Semua selalu punya kemungkinan untuk memberi kehidupan baru. Kepeduliannya terhadap Rawa Pening juga tidak berhenti di ruang rapat atau laboratorium.

Ia pernah dua kali menebar ribuan benih ikan di danau tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem. Pada 2017, ia memilih Jembatan Biru Rawa Pening sebagai lokasi syuting iklan Kuku Bima Energi bersama Ade Rai.

See also  Safari ke-53 Bos Jamu Sidomuncul DR (HC) Irwan Hidayat di Fakultas Kedokteran IPB, Ada Apa?

Pilihan itu bukan sekadar soal latar yang indah. Melalui iklan tersebut, Irwan ingin jutaan orang Indonesia melihat apa yang ia lihat: sebuah danau yang memiliki potensi luar biasa, tetapi membutuhkan perhatian bersama.

Di situlah barangkali letak keunikan Irwan Hidayat. Ia adalah pengusaha, tetapi berbicara seperti seorang pemerhati lingkungan.

Ia menjalankan bisnis, tetapi berpikir seperti seorang filantrop. Ia memimpin perusahaan jamu modern, tetapi tetap percaya bahwa masa depan Indonesia bergantung pada bagaimana manusia memperlakukan alamnya.

Bagi Irwan, keuntungan perusahaan memang penting. Namun, ada keuntungan lain yang nilainya jauh lebih besar: ketika sebuah usaha mampu membuat lingkungan menjadi lebih baik dan masyarakat ikut merasakan manfaatnya.

Karena pada akhirnya, bagi Irwan Hidayat, kesuksesan bukan hanya soal membangun perusahaan yang besar. Kesuksesan adalah ketika alam tetap hidup, masyarakat semakin sejahtera, dan generasi berikutnya masih bisa menikmati Rawa Pening yang jernih—bukan hanya mendengarnya sebagai sebuah cerita. (LAP/01)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*