CIBUBUR – Gedung GBI Patoembak, Cibubur, Sabtu (6/6/2026), terasa lebih seperti sebuah kampung di Pulau Sumba daripada sebuah gedung pertemuan di pinggiran Jakarta. Sejak pagi hingga malam, suasana khas Sumba begitu lekat terasa dalam pelantikan Kolonel Gerardus Maliti, S.Sos., M.Si., sebagai Ketua Ikatan Keluarga Asal Sumba Barat Daya (Ikalsabda) periode 2026–2030.

Tokoh-tokoh Sumba dari berbagai latar belakang hadir dalam acara tersebut. Tampak di antaranya Mayjen (Purn) Jan Pieter Ate, Dr. Yosef Djakababa bersama istri, pengacara Amos Cadu Hinna, pengusaha Frido Halang, politisi Gustaf Tamo Mbapa, penggagas Ikalsabda Dr. Servulus Bobo Riti, Ketua IKBS Hermanus Malo Dona, Sekretaris Umum IKBS Celestino Reda, Bendahara IKBS Popa Kadi Wanno, pengusaha Ganna Beili, Ketua IKB Sumba Barat Stefanus Likku Lero, serta ratusan warga Sumba yang bermukim di Jabodetabek.
Namun yang paling terasa bukanlah deretan nama besar yang hadir, melainkan hangatnya persaudaraan yang memenuhi ruangan. Bunyi gong, tambur, dan gendang bersahut-sahutan. Pekikan khas Sumba yang dikenal sebagai kabhuara menggema menyambut para tamu. Di sudut-sudut ruangan, orang-orang saling menyapa dengan senyum dan cium hidung, tradisi yang menjadi simbol keakraban dan kasih sayang dalam budaya Sumba.
Dalam sambutannya, Ketua Ikalsabda sebelumnya, Thobias Tamo Ama, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang pernah diberikan kepadanya untuk memimpin organisasi tersebut. Dengan rendah hati, ia juga memohon maaf atas berbagai kekurangan selama masa kepemimpinannya.
Ketua Umum Insan Keluarga Besar Sumba (IKBS), Hermanus Malo Dona, mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan dan kasih sayang sebagai fondasi kehidupan masyarakat Sumba di perantauan.
“Di mana pun kita berada, jangan lupa menjaga nama baik Sumba,” pesannya.
Nada yang sama disampaikan penggagas Ikalsabda, Dr. Servulus Bobo Riti. Ia mengajak seluruh warga Sumba Barat Daya untuk tetap kompak, saling menghargai, dan menjaga semangat kebersamaan yang menjadi alasan utama organisasi itu didirikan.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Sumba Barat Daya, Thomas Tanggu Dendo, berharap Ikalsabda menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan besar bagi pembangunan daerah.
“Salurkan pemikiran-pemikiran yang luar biasa lewat kami,” ujarnya.
Thomas juga memberi kesaksian bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh latar belakang seseorang.
“Saya juga anak orang sederhana. Tidak ada yang tahu nasib orang. Yang penting kita berusaha sungguh-sungguh. Tuhan selalu memberikan yang terbaik,” kata pria asal Kodi Bangedo tersebut.
Pesan yang tak kalah mengesankan datang dari salah satu senior masyarakat Sumba di Jakarta, Mayjen (Purn) Jan Pieter Ate. Ia mengajak warga Sumba di Jabodetabek untuk terus menjaga persatuan dan memanfaatkan kesempatan merantau sebagai ruang belajar.
“Kalau tidak bersatu, kita dilecehkan orang. Tapi bersatu bukan untuk menjadi jagoan, melainkan untuk saling mendukung. Jangan sampai pengetahuan kita tidak pernah bertambah di rantau. Belajarlah dari apa saja dan dari siapa saja,” pesannya.
Jan Pieter juga menyampaikan apresiasinya terhadap solidaritas yang terjalin di antara warga Sumba Barat Daya di Jabodetabek. Menurutnya, kepedulian mereka satu sama lain sangat luar biasa.
“Saya terharu. Pendapatan mereka tidak seberapa, tetapi mereka tetap saling berbagi ketika ada yang sakit, menghadapi masalah pekerjaan, atau ketika ada keluarga yang berduka,” tuturnya.
Malam pun ditutup dengan santap bersama, tarian, dan nyanyian. Tua-muda larut dalam kegembiraan. Tidak ada sekat jabatan, profesi, maupun status sosial. Yang ada hanyalah kebanggaan sebagai orang Sumba dan sukacita karena bisa berkumpul sebagai keluarga.
Satu per satu peserta meninggalkan gedung dengan wajah cerah. Mereka pulang membawa lebih dari sekadar kenangan sebuah pelantikan. Mereka membawa pulang keyakinan bahwa persaudaraan yang terus dirawat akan selalu melahirkan kegembiraan, kekuatan, dan semangat untuk terus berjuang, di mana pun kaki berpijak. (lapier/01)
Leave a Reply