Sumba telah menjadi rumah kedua bagi Pater Andreas Suhono Nitiprawiro, CSsR. Imam Kongregasi Redemptoris ini lahir di Klepu, Yogyakarta, tetapi sebagian besar panggilan pelayanannya diabdikan untuk masyarakat Sumba.
Sebagai mantan Pastor Paroki Marian Assumpta Homba Karipit, Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, ia tidak hanya dikenal sebagai seorang gembala umat, melainkan juga sebagai seorang pemikir dan pemerhati budaya Sumba.
Kecintaannya terhadap masyarakat dan budaya Sumba membuatnya melihat pulau ini bukan hanya dari sisi keindahan, tetapi juga dari berbagai tantangan yang masih membelenggunya.
Dalam perbincangan mengenai Paradoks Sumba, Pater Andreas mengajak kita melihat Sumba secara utuh. Baginya, Sumba adalah tanah yang dianugerahi kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, namun pada saat yang sama masih bergulat dengan berbagai persoalan mendasar.
Kekayaan dan Kemiskinan
Pater Andre menunjuk paradoks pertama yang tampak pada hubungan antara kekayaan dan kemiskinan. Ia menyebut, Sumba memiliki bentang savana yang luas, pantai-pantai yang memesona, kuda Sandalwood yang melegenda, tenun ikat yang bernilai tinggi, serta kekayaan budaya yang terus menarik perhatian dunia.
Akan tetapi, di balik semua potensi itu, banyak masyarakat masih hidup dalam kemiskinan. Persoalan air bersih, akses jalan, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga stunting masih menjadi kenyataan yang dihadapi banyak kampung.
Paradoks berikutnya terlihat dalam perjumpaan antara modernitas dan tradisi. Dia mengamati, kota-kota di Sumba kini semakin berkembang dengan hadirnya hotel, kafe, jaringan internet, dan teknologi digital.
Namun, dia juga melihat bahwa hanya beberapa kilometer dari pusat kota, masyarakat masih hidup dalam rumah adat, merawat kubur megalitik, dan menjalankan ritual adat seperti Pasola maupun Wulla Poddu. Di sana, modernitas dan tradisi tidak saling meniadakan, tetapi berjalan berdampingan. Di Sumba, telepon pintar dan tombak dapat berada dalam genggaman orang yang sama.
Bagi Pater Andre, di bidang pariwisata, paradoks itu juga terasa. Nama Sumba semakin dikenal dunia melalui destinasi wisata kelas internasional. Wisatawan mancanegara datang menikmati keindahan alam dan budayanya.
Namun, kemajuan industri pariwisata belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Masih banyak desa yang menghadapi keterbatasan pelayanan pendidikan, kesehatan, dan air bersih. Kekayaan yang dipromosikan kepada dunia belum sepenuhnya membawa kesejahteraan bagi rakyat yang menjaganya.
Dalam kehidupan beriman, Sumba memiliki dinamika yang khas. Mayoritas masyarakat memeluk agama Kristen, baik Katolik maupun Protestan, tentu saja selain Marapu sebagai agama asli. Kehidupan menggereja berkembang dengan baik, sementara adat dan penghormatan kepada leluhur tetap hidup dalam kehidupan masyarakat.
Menurut Pater Andre, kenyataan ini hendaknya tidak dipandang sebagai pertentangan, melainkan sebagai ruang dialog yang terus-menerus mencari keseimbangan antara iman Kristiani dan nilai-nilai luhur budaya.
Namun, dari berbagai paradoks yang ada, perhatian terbesar Pater Andre tertuju pada budaya woleka.
Woleka merupakan pesta adat yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Sumba. Perayaan ini dapat berlangsung dalam berbagai peristiwa, mulai dari perkawinan, kematian, syukuran panen, hingga pembangunan rumah adat.
Di dalamnya hidup semangat gotong royong, solidaritas, dan penghormatan terhadap leluhur. Nilai-nilai tersebut merupakan kekayaan budaya yang patut dipelihara.
”Mengapa tidak mulai membangun kesadaran baru bahwa satu ekor kerbau atau beberapa ekor babi sudah cukup sebagai simbol penghormatan? Bukankah makna syukur tidak diukur dari banyaknya hewan yang dipotong, melainkan dari ketulusan hati?” tanya Andre retoris.
Di sisi lain lanjut pendamping para frater di Wisma Sang Penebus Yogyakarta ini, woleka juga menghadirkan tantangan besar.
Dalam praktiknya, ukuran kehormatan sosial sering kali dikaitkan dengan banyaknya hewan yang dipotong dan besarnya kontribusi yang diberikan kepada keluarga penyelenggara. Sistem timbal balik yang diwariskan turun-temurun membuat banyak keluarga merasa berkewajiban membalas pemberian dengan jumlah yang lebih besar pada kesempatan berikutnya.
Akibatnya jelasnya, tidak sedikit keluarga yang menjual ternak, menggadaikan kebun, bahkan berutang demi memenuhi tuntutan sosial tersebut.
Beban ekonomi itu sering kali berdampak pada pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan kesejahteraan jangka panjang. Di sinilah paradoks woleka muncul: sebuah tradisi yang dibangun atas dasar persaudaraan justru dapat menjadi penyebab lahirnya kemiskinan baru apabila kehilangan keseimbangan.
”Bukankah kehormatan sebuah keluarga juga dapat diukur dari anak-anaknya yang berpendidikan, keluarganya yang sehat, peternakannya yang berkembang, dan masa depannya yang lebih baik?” kata Pater Andre lagi dengan nada menggugat.
Pembaruan Cara Pandang
Meski demikian, Pater Andreas tidak memandang woleka sebagai tradisi yang harus dihapuskan. Sebaliknya, budaya itu perlu terus dipelihara karena menjadi bagian dari identitas masyarakat Sumba. Yang dibutuhkan adalah pembaruan cara pandang agar nilai luhur adat tetap terjaga tanpa mengorbankan masa depan generasi berikutnya.
Salah satu gagasan yang Andre kemukakan adalah membangun kesepakatan sosial yang lebih sederhana. Penghormatan kepada leluhur dan keluarga tidak selalu harus diwujudkan melalui penyembelihan hewan dalam jumlah besar.
Sebagian sumber daya yang dimiliki keluarga dapat dialihkan untuk pendidikan anak, penyediaan air bersih, pengembangan usaha produktif, koperasi desa, maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, adat tetap hidup, tetapi kehidupan masyarakat juga semakin bertumbuh.
Bagi Andre, perubahan seperti ini tentu bukan perkara mudah karena menyentuh persoalan harga diri, martabat keluarga, dan sistem sosial yang telah mengakar selama berabad-abad.
Oleh karena itu, dibutuhkan dialog yang terus-menerus antara tokoh adat, Gereja, pemerintah, dan masyarakat.
Pater Andre juga mengingatkan bahwa tanggung jawab perubahan tidak dapat dibebankan kepada tokoh agama semata. Pemerintah daerah dan para wakil rakyat memiliki tanggung jawab yang sama besar untuk menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat.
Mereka dipilih oleh rakyat untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan infrastruktur, tetapi juga harus mampu memberdayakan masyarakat agar keluar dari lingkaran kemiskinan.
Pada akhirnya, Paradoks Sumba bagi Pater Andre bukanlah alasan untuk pesimis. Sebaliknya, paradoks itu menjadi panggilan untuk membangun Sumba dengan tetap berpijak pada akar budayanya. Budaya tidak perlu ditinggalkan, tetapi terus dimurnikan agar menjadi kekuatan yang mengangkat martabat manusia.
Sebagaimana semangat yang terus digaungkan, SEHATI—Sehat Ekonomi, Hidup Aman, Teguh Iman—dapat menjadi arah bersama. Sebab Sumba akan semakin dihormati bukan hanya karena alamnya yang indah atau budayanya yang kaya, melainkan karena masyarakatnya mampu mengubah kekayaan budaya menjadi kesejahteraan bagi setiap keluarga dan masa depan bagi generasi yang akan datang.*
Leave a Reply