Antara Telor dan Bajingan: Ketika Makna Ditentukan oleh Ruang Sosial

Bajingan: pengemudi gerobak (makna awal).

Oleh Emanuel Dapa Loka

Bahasa tidak pernah benar-benar netral. Sebuah kata yang terdengar biasa di satu daerah dapat berubah menjadi penghinaan kasar di daerah lain.

Sebaliknya, sebuah umpatan yang di satu tempat dianggap sangat ofensif justru dapat menjadi pujian tertinggi di tempat lain.

Fenomena semacam ini menunjukkan bahwa makna bahasa bukan hanya persoalan kamus, melainkan juga hasil konstruksi sosial, budaya, dan sejarah pemakainya.

Dalam linguistik, gejala tersebut merupakan bentuk variasi semantik antardialek, yakni perbedaan makna sebuah ungkapan akibat perbedaan wilayah pemakaian.

Kajian mengenai fenomena ini berada pada irisan semantik, dialektologi, geografi linguistik, dan sosiolinguistik, karena makna kata dipengaruhi oleh komunitas tutur, konteks sosial, serta identitas budaya masyarakat.

Contoh yang menarik adalah kata telor dan bajingan.

Di sebagian besar Indonesia bagian barat, kata telor lazim dipakai sebagai variasi fonologis dari telur, yakni benda bercangkang yang dihasilkan unggas.

Karena itu, dalam percakapan sehari-hari, seseorang dapat dengan santai mengatakan, “Saya mau membeli telor satu kilogram,” tanpa memunculkan tafsir lain.

Namun, di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur, leksem telor mengalami pergeseran makna (semantic shift) yang sangat ekstrem. Kata tersebut tidak lagi merujuk pada telur unggas, melainkan menjadi sebutan bagi testis atau buah zakar laki-laki.

Karena berkaitan dengan organ seksual, kata itu memperoleh konotasi peyoratif dan dapat berfungsi sebagai bentuk makian. Sebaliknya, kata telur dipakai untuk merujuk pada telur ayam, telur bebek, dan sebagainya.

Perbedaan ini menunjukkan adanya divergensi semantik, yakni satu bentuk bahasa berkembang menjadi dua makna yang berbeda dalam komunitas tutur yang berlainan.

Akibatnya, penutur dari luar daerah berpotensi mengalami kegagalan pragmatik (pragmatic failure), yaitu menggunakan kata yang secara gramatikal benar tetapi secara sosial dianggap tidak pantas.

See also  Ketika Imajinasi Hanya Setembakan Air Kencing

Ucapan “Mau beli telor satu kilogram” di beberapa wilayah Indonesia timur bahkan dapat memancing kebingungan, tawa, atau kemarahan karena ditafsirkan sebagai ujaran yang vulgar.

Fenomena yang sama tampak pada kata bajingan, tetapi arahnya justru berlawanan.

Dalam bahasa Jawa dan kemudian bahasa Indonesia umum, bajingan kini berkonotasi negatif. Kata ini menjadi label bagi orang yang dianggap jahat, licik, atau tidak bermoral.

Padahal, secara etimologis, bajingan semula merupakan sebutan bagi pengemudi gerobak sapi.

Dalam perkembangan sejarah, profesi tersebut diduga memperoleh stereotip buruk sehingga nama profesinya mengalami peyorasi, yaitu perubahan makna dari netral menjadi negatif.

Dengan kata lain, yang berubah bukan bentuk katanya, melainkan nilai evaluatif yang dilekatkan masyarakat terhadap kata tersebut.

Sebaliknya, di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur, bajingan justru mengalami proses ameliorasi, yakni perubahan makna dari negatif menjadi positif. Kata ini digunakan untuk menyatakan kekaguman: hebat, luar biasa, paling jago, atau sangat mengesankan.

Tidak mengherankan apabila muncul ungkapan seperti:

“Gubernur kita sangat bajingan.”

“Pendeta itu bajingan main gitar.”

“Pak Ustaz paling bajingan kalau berceramah.”

“Pastor itu pemain paling bajingan di lapangan.”

Bagi masyarakat setempat, seluruh kalimat tersebut sama sekali bukan penghinaan, melainkan ekspresi apresiasi yang sangat tinggi.

Akan tetapi, apabila diucapkan di Pulau Jawa atau daerah lain yang mempertahankan makna peyoratifnya, tuturan yang sama berpotensi memicu konflik.

Inilah yang dalam pragmatik disebut perbedaan interpretasi berdasarkan komunitas tutur (speech community).

Perbedaan makna ini mengingatkan bahwa makna leksikal tidak selalu identik dengan makna sosial.

Kamus hanya merekam salah satu bentuk penggunaan bahasa, sedangkan masyarakatlah yang sesungguhnya menentukan bagaimana sebuah kata dipahami dalam praktik komunikasi.

See also  Mencintai Pekerjaan, Atau Diperbudak Pekerjaan

Menariknya, menurut KBBI, telor bukanlah bentuk baku dari telur. Kata telor justru merupakan entri tersendiri yang berarti “tidak dapat melafalkan bunyi dengan benar”, misalnya mengucapkan orang menjadi olang.

Adapun bentuk baku untuk benda bercangkang tetaplah telur. Fakta ini memperlihatkan adanya perbedaan antara norma bahasa baku dan pemakaian bahasa aktual di masyarakat. Dalam linguistik modern, keadaan seperti ini merupakan perbedaan antara pendekatan preskriptif dan deskriptif.

Lalu bagaimana makna positif bajingan di Indonesia timur bisa muncul?

Sulit memastikan asal-usulnya tanpa bukti historis yang memadai. Dugaan bahwa makna tersebut berasal dari plesetan seseorang yang kemudian menyebar hanyalah hipotesis dan belum memiliki landasan ilmiah yang kuat.

Dalam linguistik historis, perubahan makna dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain metafora, ironi, pembalikan makna (semantic inversion), pengaruh bahasa lain, identitas kelompok, hingga proses difusi antarkomunitas.

Karena itu, asal-usul perubahan makna bajingan masih memerlukan penelitian etimologis yang lebih mendalam.

Yang pasti, fenomena telor dan bajingan memperlihatkan bahwa bahasa adalah sistem yang hidup. Makna tidak pernah sepenuhnya tetap; ia terus bergerak mengikuti sejarah, budaya, identitas, dan kesepakatan para penuturnya.

Sebuah kata dapat mengalami peyorasi, ameliorasi, penyempitan makna, perluasan makna, bahkan pembalikan makna secara total.

Pelajaran terpenting dari gejala ini bukan sekadar mengetahui arti sebuah kata, melainkan memahami bahwa komunikasi selalu bergantung pada konteks. Dalam masyarakat multilingual seperti Indonesia, kepekaan terhadap variasi dialek, makna lokal, dan norma budaya menjadi bagian penting dari kompetensi berbahasa.

Sebuah kata mungkin terdengar biasa bagi penuturnya, tetapi dapat menjadi penghinaan paling kasar bagi lawan bicaranya. Sebaliknya, sebuah umpatan di satu daerah bisa berubah menjadi pujian di daerah lain.

See also  Sepak Bola, Patriotisme dan Global Peace

Karena itu, sebelum berbicara, pertanyaan yang paling penting bukan hanya “apa arti kata ini?”, melainkan juga “di mana saya berada, dan kepada siapa saya sedang berbicara?”.*

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*