Cerpen: Nama yang Tak Pernah Disebut

Malam itu hujan turun seperti tidak hendak berhenti. Atap seng rumah tua itu dipukul air dengan suara berderak. Dari kebun belakang, bunyi serangga bersahutan dengan nyanyian kodok dari genangan.

Angin menyusup melalui celah dinding, membuat nyala lampu minyak di ruang tengah bergoyang-goyang.

Ani terbangun.

Entah mengapa tidurnya terasa gelisah. Lalu terdengar suara pintu kamarnya bergerak perlahan.

Krek.

Ani membuka mata.

Dalam temaram cahaya, seseorang berdiri di ambang pintu.

“Siapa?”

Tak ada jawaban.

Bayangan itu melangkah masuk. Ketika lelaki itu mendekat, Ani mencium bau alkohol yang menyengat. Napasnya berat dan kasar.

Ani mengenalinya.

Salah seorang penghuni rumah.

“Jangan, Pak…”

Suara Ani bergetar.

“Jangan!”

Lelaki itu membungkam mulutnya.

Ani meronta. Ia berusaha berteriak, tetapi suaranya tertahan. Tubuhnya yang masih kecil tak sebanding dengan kekuatan lelaki dewasa itu.

Di luar, hujan semakin deras.

Di rumah itu ada dua lelaki lain yang sedang minum. Entah mereka tidak mendengar, tidak peduli, atau memilih untuk tidak tahu.

Malam pun menelan semuanya.

***

Pagi datang tanpa belas kasihan.

Cahaya matahari masuk melalui celah jendela. Di atas tikar, bercak darah yang mengering menjadi saksi sesuatu yang tak sanggup diceritakan Ani.

Ia duduk lama di tepi tempat tidur.

Tubuhnya sakit. Tetapi yang lebih menyakitkan adalah sesuatu yang tak mampu ia beri nama.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Mengapa ia merasa begitu kotor?

Mengapa ia ingin menangis, tetapi tidak tahu kepada siapa harus mengadu?

Ani baru duduk di kelas II SMP. Ia adalah anak petani miskin yang dititipkan orang tuanya kepada keluarga kerabat agar dapat bersekolah.

Ia datang ke rumah itu dengan satu impian sederhana: sekolah, belajar, dan mempunyai masa depan.

Pagi itu ia mandi lebih lama dari biasanya. Tubuhnya digosok berkali-kali, seolah-olah air dapat menghapus sesuatu yang melekat di kulit.

Namun semakin digosok, semakin ia sadar: yang ingin dihapusnya bukan kotoran.

Melainkan ingatan.

Di sekolah, suara guru terdengar jauh. Tulisan di papan tulis seperti bergerak. Buku pelajaran terbuka di hadapannya, tetapi tak satu pun kalimat masuk ke kepalanya.

Satu pertanyaan terus berputar: Apakah aku salah?

Lalu muncul pertanyaan yang lebih menakutkan.

Kalau aku bercerita, siapa yang akan percaya?

Sebulan berlalu.

Tubuh Ani mulai berubah. Ia sering mual, pusing, dan beberapa kali muntah di belakang sekolah. Mula-mula ia membeli obat di warung. Ia menyembunyikan semuanya.

Ia takut.

Bukan kepada penyakitnya.

Ia takut pada kenyataan yang mungkin sedang tumbuh di dalam tubuhnya.

Suatu siang, ia bertemu ibunya di emper sebuah toko. Perempuan itu sedang berjualan sayur.

“Ibu…”

Ani berdiri di hadapannya dengan wajah pucat.

“Aku mau cerita.”

Ibunya menatapnya.

Ani menundukkan kepala. Cerita itu keluar sedikit demi sedikit, terputus-putus oleh tangis. Tentang malam hujan itu. Tentang lelaki yang masuk ke kamarnya. Tentang ketakutan yang selama ini ia pendam seorang diri.

See also  Cerpen Odemus Bei Witono: Pendidikan (Bukan) dalam Selimut

Ibunya membeku.

“Apa?”

Ani menangis.

“Dia melakukan apa kepadamu?”

Ani tidak menjawab.

Ibunya memegang kedua bahunya.

“Jangan-jangan…”

Kalimat itu menggantung.

Keduanya saling memandang.

“Jangan-jangan engkau hamil?”

Ani menggeleng cepat.

“Tidak mungkin.”

Tetapi beberapa minggu kemudian, kenyataan itu tak dapat lagi disangkal.

Ani hamil.

Ia baru lima belas tahun.

Anak itu kemudian lahir. Bayi kecil, mungil, dan lemah. Ia belum diberi nama. Di rumah, orang-orang hanya memanggilnya Tamo Ama—anak milik Ani.

Anak yang tidak pernah diakui ayahnya.

Ani sendiri masih terlalu muda untuk memahami bagaimana menjadi seorang ibu. Air susunya sedikit. Tubuhnya kurus. Beban pikirannya terlalu berat.

Jika rumah sedang sepi, ia menggendong bayinya. Kadang ia tersenyum. Kadang ia menangis sambil tersenyum.

Tetapi jika kerabat datang, bayi itu segera dibawa ke pondok di kebun dan dijaga neneknya.

Orang tua Ani malu. Mereka takut kampung tahu anak mereka mempunyai bayi tanpa suami.

Tak ada yang sungguh-sungguh bertanya bagaimana bayi itu hadir.

Atau mungkin mereka tahu jawabannya, tetapi terlalu takut berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kuasa.

Ada tiga lelaki malam itu.

Tiga lelaki dewasa.

Tiga orang yang sedang mabuk.

Dan tak seorang pun mau mengaku.

Ani akhirnya belajar satu kenyataan yang kejam: orang miskin kadang bukan hanya kehilangan uang. Mereka juga kehilangan hak untuk dipercaya.

Beberapa bulan setelah melahirkan, Ani pergi ke Malaysia.

Dengan bantuan seorang calo tenaga kerja, umurnya dipalsukan menjadi delapan belas tahun. Padahal ia baru lima belas.

Di atas kertas, ia lajang.

Tak seorang pun perlu tahu bahwa ia telah memiliki seorang anak.

Ani meninggalkan kampung dengan membawa satu luka dan satu janji.

Ia akan bekerja.

Mengirim uang.

Membiayai anaknya.

Dan suatu hari pulang.

Sepuluh tahun ia hidup jauh dari tanah kelahirannya. Sepuluh tahun bekerja dari pagi hingga malam. Sepuluh tahun mengirim sebagian besar penghasilannya kepada orang tua—untuk anaknya, untuk rumah, untuk masa depan yang bahkan belum jelas bentuknya.

Namun ada satu hal yang tak pernah dapat ia tinggalkan: rasa bersalah.

Setiap kali mengirim uang, ia bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah aku ibu yang buruk karena meninggalkan anakku?

Tetapi setiap kali mengingat alasan ia pergi, pertanyaan lain datang:

Lalu apa yang harus kulakukan?

Anak itu akhirnya diberi nama Yos.

Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas. Tetapi pertanyaan tentang ayah selalu mengikutinya.

“Siapa bapakku?”

Tak ada jawaban.

“Di mana bapakku?”

Tetap tak ada jawaban.

“Kenapa aku tidak seperti teman-temanku?”

Orang-orang dewasa memilih diam.

Di sekolah, diam itu berubah menjadi ejekan.

“Anak siapa kau?”

“Bapaknya siapa?”

“Katanya bapakmu tidak jelas.”

Yos menelan semuanya.

Hari demi hari.

Tahun demi tahun.

Ia menganyam kemarahan seperti seseorang menganyam tali: helai demi helai, semakin kuat, semakin sulit diputus.

Ia tak tahu kepada siapa harus marah.

See also  Mama dalam Putih yang Tenang

Kepada ayah yang tak dikenalnya?

Kepada ibu yang meninggalkannya?

Kepada kakek-neneknya?

Atau kepada dunia?

Suatu hari, Yos mendengar percakapan dua tetangga.

“Ibunya Yos itu Ani.”

Yos berhenti melangkah.

Dunia seperti mendadak sunyi.

Selama ini ia tak pernah tahu.

Malam itu ia mencari jawaban.

“Benarkah Ibu Ani ibuku?”

Tak ada lagi yang bisa bersembunyi.

Yos menatap foto perempuan yang selama ini hanya ia kenal sebagai seseorang yang mengirim uang dari Malaysia.

Dadanya sesak.

“Kalau dia ibuku…”

Ia mengepalkan tangan.

“Siapa ayahku?”

Tak seorang pun menjawab.

“Di mana dia?”

Tetap diam.

Untuk pertama kalinya, kemarahannya menemukan wajah.

Dan wajah itu adalah wajah ibunya.

Sementara itu, salah seorang lelaki yang berada di rumah pada malam hujan itu bernama Poll.

Bertahun-tahun kemudian, ia masuk penjara karena kasus perjudian.

Di balik jeruji, hidup memaksanya berhadapan dengan dirinya sendiri.

Pada malam-malam panjang, ketika pintu besi ditutup dan lorong penjara sunyi, ingatan lama datang kembali.

Hujan.

Bau alkohol.

Seorang anak perempuan yang menangis.

Tangan yang meronta.

Wajah yang ketakutan.

Poll tak lagi mampu mengusir ingatan itu.

Ia mulai mencari kabar tentang Yos.

Diam-diam.

Sesekali ia mengirim uang jajan melalui orang lain. Uang itu berasal dari kerajinan tangan yang dibuatnya di penjara.

Tetapi bagi Poll, uang itu tak pernah cukup.

Sebab ia tahu, tak ada jumlah uang yang dapat membeli kembali masa kecil seorang anak.

Enam tahun kemudian, Poll bebas.

Rambutnya telah banyak memutih. Tubuhnya tak lagi segagah dulu.

Tetapi dosa memiliki cara sendiri untuk membuat seseorang merasa tua sebelum waktunya.

Ia mencari Yos.

Ketika akhirnya bertemu, Poll berdiri beberapa meter di depan anak itu.

“Siapa?”

Poll menelan ludah.

“Saya…”

Suaranya pecah.

“Saya ingin meminta maaf.”

“Untuk apa?”

Poll menundukkan kepala.

“Karena saya telah menghancurkan hidup ibumu.”

Yos diam.

“Dan…”

Poll menarik napas panjang.

“Saya ayahmu.”

Yos seperti tersambar petir.

“Bohong!”

“Saya tahu saya tidak pantas disebut ayah.”

“Bohong!”

“Ibumu tidak salah,” kata Poll. “Saya yang jahat.”

Ia berlutut.

“Maafkan saya.”

Yos mundur selangkah.

“Kalau kau mau memukul saya, pukullah. Kalau kau mau membenci saya, bencilah. Kalau kau menganggap saya bukan siapa-siapa, saya terima.”

Yos menatap lelaki itu lama.

Ada begitu banyak pertanyaan di kepalanya: tentang masa kecilnya, tentang ibunya, tentang dirinya sendiri, tentang malam yang tak pernah ia saksikan tetapi telah menentukan seluruh hidupnya.

Ia ingin memukul.

Ingin berteriak.

Ingin bertanya mengapa.

Namun ketika mulutnya terbuka, tak ada suara keluar.

Hanya air mata.

Yos berbalik.

Lalu pergi.

Malamnya, ia tidak pulang.

Mula-mula keluarga mengira ia hanya pergi untuk menenangkan diri. Tetapi malam berganti pagi, pagi berganti siang.

Yos tak kembali.

Mereka mencarinya ke sekolah, rumah teman, kebun, pasar, dan jalan-jalan kampung.

Tidak ada.

See also  Kukira Engkau adalah Fajar Pagi

Ani, yang beberapa waktu sebelumnya telah pulang dari Malaysia, berdiri di depan pintu dengan tubuh gemetar.

Anaknya pergi.

Anak yang selama sepuluh tahun ia tinggalkan demi uang.

Anak yang tak pernah bisa ia peluk sebagaimana seorang ibu memeluk anaknya.

Anak yang mungkin selama bertahun-tahun membencinya.

Ani terduduk di tanah.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis seperti anak kecil.

“Yos…”

Tak ada jawaban.

Ia memandang jalan yang kosong.

Dalam hati, hanya ada satu permintaan: Jangan hukum anakku karena dosa orang dewasa.

Namun dunia tetap diam.

Seperti malam hujan bertahun-tahun lalu.

Di tempat yang jauh dari rumah, Yos berjalan sendirian.

Ia tidak tahu hendak ke mana.

Ia hanya tahu satu hal: ia tidak ingin terus hidup dengan pertanyaan.

Namun semakin jauh ia melangkah, semakin banyak pertanyaan mengejarnya.

Apakah Poll benar-benar ayahku?

Kalau benar, apakah dosa ayah harus menjadi dosaku?

Apakah aku boleh membenci ibuku?

Padahal mungkin ibuku juga korban?

Langkahnya terhenti.

Yos menatap langit.

Gelap.

Tak ada jawaban.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang samar-samar pernah diceritakan neneknya: seorang perempuan muda yang dahulu sering menggendongnya diam-diam ketika rumah sedang sepi.

Perempuan itu bernama Ani.

Ibunya.

Untuk pertama kalinya, kemarahannya retak.

Di balik marah itu ternyata ada kerinduan.

Dan di balik kerinduan itu ada luka yang jauh lebih tua daripada dirinya.

Yos menutup wajah.

Ia menangis.

Bukan karena telah menemukan siapa ayahnya.

Melainkan karena baru menyadari bahwa selama ini ia mencari seseorang untuk disalahkan, sementara ibunya pun sebenarnya sedang berusaha bertahan hidup dari luka yang tak pernah ia pilih.

Di kejauhan, hujan mulai turun.

Pelan-pelan.

Seperti malam bertahun-tahun silam.

Bedanya, kali ini Yos tidak lagi mendengar tangis seorang anak dari balik pintu.

Ia hanya mendengar hujan.

Dan di dalam dirinya, untuk pertama kalinya tumbuh sebuah pertanyaan baru:

Apakah luka harus diwariskan?

Ia tidak tahu jawabannya.

Ia hanya terus berjalan.

Sementara di kampung, seorang ibu masih menunggu di depan pintu.

Menunggu anaknya pulang.

Menunggu kesempatan untuk mengatakan sesuatu yang selama ini tak pernah sempat dikatakannya:

“Yos, Ibu tidak pernah meninggalkanmu karena tidak mencintaimu.”

“Justru karena mencintaimulah, Ibu pergi.”

“Maafkan Ibu.”

Tetapi malam terus turun.

Dan jalan tetap kosong.

Nama Yos terus disebut dari rumah ke rumah.

Tak ada yang tahu ke mana ia pergi.

Yang tersisa hanyalah seorang ibu yang menunggu, seorang lelaki yang menyesal, dan seorang anak yang membawa luka dari dosa yang tak pernah ia lakukan.

Di situlah tragedi itu menemukan bentuknya: tiga manusia menanggung bayang-bayang satu kejahatan—korban yang berusaha bertahan, anak yang mewarisi luka, dan lelaki yang akhirnya sadar bahwa penyesalan, betapapun dalamnya, tidak selalu mampu mengembalikan sesuatu yang telah dihancurkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*