Jogjakarta bukan sekadar tempat tinggal bagi Ebiet G. Ade. Kota ini adalah rahim yang melahirkan kepekaan batin, kegelisahan, dan lirik-lirik puitisnya.
Ebiet, nama aslinya Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far, datang ke Jogja dari Wonodadi, Banjarnegara untuk kuliah di Fakultas Ekonomi UGM.
Tapi kampus bukan yang paling membentuknya. Yang menempa Ebiet justru “universitas jalanan” Jogja tahun 70-an: Malioboro, bulungan-bulungan sastra di trotoar, warung kopi, dan komunitas seniman.
Di era itu Jogja lagi “mendidih”. Ada Persada Studi Klub pimpinan Umbu Landu Paranggi, tempat para penyair muda seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi, Korrie Layun Rampan nongkrong.
Ebiet muda ikut menyerap atmosfer itu. Dari sinilah ia belajar bahwa kata-kata bisa jadi senjata paling halus untuk melawan ketidakadilan, tapi juga selimut paling hangat untuk luka manusia.2. Disayang Senior-Senior Malioboro
Disayang Senior
Yang bikin Jogja makin membekas: Ebiet disayang para seniornya di Malioboro. Umbu Landu Paranggi, “Paus Sastra Malioboro” itu, melihat Ebiet bukan sebagai saingan, tapi adik yang tulus.
Emha Ainun Nadjib, yang sama-sama perantau, sering jadi teman diskusi sampai larut. Para seniman jalanan, pengamen, dan penyair trotoar Malioboro menerima Ebiet apa adanya — anak pendiam bergitar bolong yang liriknya dalam.
Justru karena disayang itulah Ebiet dikasih ruang untuk tumbuh. Senior-seniornya tidak menggurui, tapi menularkan sikap: berkarya itu harus jujur, dan manusia lebih penting dari popularitas.
Dari kasih sayang tanpa pamrih itulah lahir rasa aman untuk jujur dalam lagu. Malioboro jadi rumah, bukan sekadar tongkrongan.3. Kontrakan, Gitar, dan Kegelisahan
Ebiet tinggal berpindah-pindah kontrakan sederhana di sekitar Pogung dan Samirono. Dengan gitar bolong, ia menulis lagu bukan di studio mewah, tapi di kamar kos beralaskan tikar.
Jogja memberinya sepi yang produktif. Kesepian di tengah keramaian kota pelajar justru membuat mata batinnya tajam.Lagu Camellia ditulis untuk istri, Yayuk, yang ia temui di Jogja.
Berita Kepada Kawan lahir dari tragedi gas beracun Sinila Dieng 1979 yang ia dengar saat di Jogja. Titip Rindu Buat Ayah adalah kerinduan anak rantau di kos-kosan Jogja pada bapak di kampung. Jogja mengubah keresahan pribadi jadi keresahan universal.
Malioboro sebagai Guru
Malioboro bukan cuma jalan. Bagi Ebiet, itu panggung kehidupan. Pengamen, becak, mahasiswa demo, orang-orang kecil yang bertahan hidup — semua jadi “skripsi” bagi Ebiet.
Di lagu Elegi Esok Pagi, Untuk Kita Renungkan, terdengar jelas suara-suara Malioboro: lirih, jujur, tanpa menghakimi.
Ebiet pernah bilang, “Jogja mengajarkan saya untuk mendengar sebelum bicara.” Kota ini mengajar dia melihat manusia bukan dari jabatannya, tapi dari lukanya.5. Jogja yang Melekat Selamanya
Meski sekarang Ebiet tinggal di Ciganjur, Jakarta, Jogja tidak pernah lepas. Logat Banyumas-Jogja-nya masih kental kalau bicara.
Gaya bermusiknya yang “merenung” itu lahir dari sore-sore mendung khas Jogja. Bisa dibilang, tanpa Jogja, Ebiet mungkin tetap jadi musisi. Tapi Ebiet G. Ade yang kita kenal — yang liriknya seperti puisi, yang nyanyinya seperti doa, yang musiknya jadi teman orang-orang patah hati — itu lahir dari rahim budaya, kasih sayang senior-senior Malioboro, dan sunyi Jogjakarta.
Ruang untuk jadi Manusia
Jogja menempa Ebiet bukan dengan kemewahan, tapi dengan ruang untuk jadi manusia. Kota itu memberi dia empat hal: sepi untuk merenung, kata-kata untuk melawan, orang-orang kecil untuk dicintai, dan senior-senior yang merangkul tanpa menggurui.
Dari empat hal itu, lahirlah lagu-lagu yang sampai hari ini masih kita setel kalau rindu, kalau kehilangan, kalau ingin jadi lebih manusia. (*)
Leave a Reply